IKATAN DINAS

Ikatan dinas menurut pengertian awam saya adalah suatu aturan di mana seseorang tidak diperkenankan untuk keluar dari organisasi/instansi/perusahaan selama kurun waktu atau masa yang telah ditentukan.  Jika yang bersangkutan keluar atau mengundurkan diri sebelum masa ikatan dinas tersebut berakhir, maka dia akan menerima konsekuensi.  Entah berupa denda, pinalti ataupun mengganti sejumlah dana tertentu.  Itu semua dituangkan ke dalam dokumen perjanjian yang disetujui oleh kedua belah pihak.

sign
(source : clipart, ms power point)

.

Pada umumnya aturan ikatan dinas diberlakukan jika seseorang menempuh pendidikan/pelatihan untuk pengembangan dirinya.  (atau sebut saja : si karyawan di-sekolah-kan lagi) Seluruh biaya akan ditanggung oleh instansi/organisasi/perusahaan yang mengirimnya.

Mengapa saya mengangkat topik ini ?

Banyak instansi/organisasi/perusahaan memberlakukan aturan ikatan dinas ini. untuk bentuk pelatihan dan pengembangan jenis apapun.  Dari mulai training yang berlangsung hanya setengah hari, sampai dengan pendidikan yang berlangsung selama kurun waktu dua, tiga atau empat tahun lebih.  (Entah itu untuk jenjang S1, S2 atau S3)

.

Apakah setiap aktifitas pengembangan karyawan (pendidikan dan pelatihan) perlu dibuat ikatan dinas ?

Menurut pendapat saya ikatan dinas selayaknya diberlakukan HANYA untuk jenis-jenis aktifitas pendidikan, pengembangan dan pelatihan tertentu saja.  Tidak semua aktifitas pengembangan perlu aturan ikatan dinas.

Aktifitas pengembangan yang layak di “ikatan dinas” kan menurut saya adalah:

.

1.Jenjang Pendidikan S1/S2/S3 atau pendidikan spesialisasi atau sertifikasi tertentu.

Jika sebuah instansi/organisasi/perusahaan “menyekolahkan” lagi karyawannya atas biaya dinas, saya rasa layaklah kiranya karyawan tersebut dikenakan aturan ikatan dinas.  Saya kurang begitu tau aturan jelasnya, namun biasanya mereka menerapkan rumus 2N+1 (N adalah masa pendidikan)(Ada yang tau perhitungan rumus lainnya ?)

.

2. Pelatihan yang bersifat rahasia/spesifik

Maksudnya adalah pelatihan yang berkaitan dengan pemberian materi tentang inovasi yang confidential.  Contohnya training tentang teknologi unggulan mesin baru, formulasi produk baru, bahan-bahan temuan baru, proses bisnis dan sebagainya.  Ini sangat perlu untuk di-ikatan dinaskan.

Mengapa demikian ? Ya tentu saja, karena ini berkaitan dengan rahasia perusahaan.  Jangan sampai nanti si A, yang baru beberapa waktu lalu dikirim untuk mempelajari teknologi pembuatan mesin otomotif merek A selama sebulan penuh di Jepang, besoknya dia resign dan pindah ke kompetitor, kan bisa runyam urusan.

.

3. Pelatihan dengan investasi yang mahal

Pendidikan dan pelatihan yang menyerap dana investasi yang “mahal”, juga layak untuk di ikatan dinaskan.  Jangan sampai perusahaan sudah mengeluarkan investasi untuk mengirim si B training ke Jerman.  Menanggung biaya fee training, transportasi pesawat, membayar penginapan dan menanggung biaya hidup sebesar total Rp. 150 juta … eeehhh dua minggu setelah training, si B hengkang ke perusahaan lain.  Saya rasa ini tidak etis dan memang harus ada aturan ikatan dinasnya.

NAMUN DEMIKIAN …

Seperti yang tadi saya katakan, ikatan dinas tidak sepatutnya diberlakukan untuk SETIAP aktifitas pendidikan-pengembangan atau training yang diikuti oleh karyawan.

Untuk jenis-jenis training yang umum, nilai investasinya wajar dan berlangsung hanya satu, dua atau tiga hari saja, rasanya kok terlalu berlebihan jika diberlakukan ikatan dinas.

Training yang umum itu seperti apa sih Om ?

Ya training-training umum semacam Supervisory Skill, Communication Skill, Public Speaking, Presentation Skill, Writting Skill, Handling Consumer Complain, Negotiation Skill, Sales Skill, Team Work Training, Leadership Training dan yang sejenisnya.  Dengan nilai investasi relatif masih terjangkau, (katakanlah di bawah Rp. 10 juta) dan dilakukan hanya dua atau tiga hari saja.

Jika kita mengirim karyawan untuk ikut training umum semacam ini, rasanya tidak perlu diberlakukan ikatan dinas.

Memang kenapa Om ?

Saya takut hal ini menjadi penghalang bagi para karyawan untuk mengembangkan dirinya sendiri.  Ini juga menjadi penghambat tim HR khususnya bagian Training and Developement di perusahaan tersebut untuk mengusulkan program pengembangan bagi karyawan-karyawan di organisasinya.  Mereka, para karyawan itu jadi enggan ikut training, karena takut dengan “ancaman” ikatan dinas tersebut.  Hal ini membuat gerakan mereka jadi terikat.  Merasa tidak bebas.

Seharusnya …

Seorang karyawan itu tetap bertahan dan berkarya dengan suka rela dan gembira di suatu perusahaan itu karena memang mereka merasa nyaman untuk terus bekerja di sana …

Bukan karena adanya ikatan dinas !!!

(Once again, ini pendapat pribadi.  Masing-masing instansi/organisasi/perusahaan pasti punya kebijakan sendiri)

Anda pernah mendapatkan “ikatan dinas” ?
Anda pernah ditawari ikut training dengan “ikatan dinas” ?
Anda pernah mendengar mengenai “ikatan dinas”?

What do you think ?

Salam saya

om trainer1

.

.

.

.

HOT SPOT

Sebut saja namanya “Hot Spot”.

Sebuah titik yang “panas”.  Arti awamnya adalah “tempat di mana orang bisa mengakses internet dengan baik (dan kadang cepat)”  Tempat ini selalu menjadi favorit banyak orang untuk mendekat ke sana. 

Khusus untuk kali ini, pengertian “hot spot” akan sedikit saya lebarkan dengan menambah hal-hal lain di luar internet.  “Hot spot” adalah tempat favorit yang menjadi tujuan sementara orang untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu.

Di kantor saya ada sebuah area “hot spot”.  Dan celakanya, area “hot spot” tersebut letaknya persis di sebelah cubicle (meja kerja) saya.  Haiyaaa !!!.  Area di sebelah cubicle saya ini menjadi tempat favorit bagi para karyawan dan karyawati untuk melakukan beberapa hal.  Ulangi …ini letaknya di sebelah meja kerja sayaaaa !!!

Akibatnya ? banyak orang sliweran di sana.  Sebelah meja kerja saya itu, sudah kayak pasar malem !

hotspot
hot spot ituh !

Untuk gambaran anda saja, area di sebelah meja kerja saya ini terdapat jendela.  Dari jendela tersebut kita bisa melihat area merokok di bawah sana.  Kita bisa melihat siapa-siapa saja yang sedang merokok di bawah sana.  Banyak sekretaris, karyawan, karyawati, anak buah yang mencari boss-bossnya melalui jendela ini.

“Boss ku lagi ngerokok di bawah nggak yaaa ?”

“Pak Nanang liat boss ku nggak ?”

“Misi ya Pak, mau ngintip Pak XXX ada di bawah nggak yaaaa ?”

dst dst dst …

So : ingin cari boss anda ? datanglah ke hot spot ini !

Ada lagi yang memang sengaja ke area ini untuk menelpon.  Entah mengapa jaringan di kantor kami ini kurang begitu baik sinyalnya.  Jika kita menerima telpon dari luar atau ingin menelpon melalui HP kita, maka biasanya kita akan mendekat ke jendela ini.  Suaranya (seolah) bisa sedikit lebih baik.  Bahkan agar lebih afdol, ada beberapa orang yang sengaja menempelkan jidat atau keningnya ke kaca jendela sambil tetap cas-cis-cus telponan (untuk penguat sinyal rupanya )(huahahaha)

Maka jadilah saya saksi kuping pembicaraan mereka.  Ada yang bisnis kontrakan, jual beli barang elektronik, ada yang nelpon keluarganya, ada yang yayang-yayangan terima telpon dari pacarnya dan sebagainya.  Rame sudah !

So : ingin bicara dengan lancar tanpa ganggunan sinyal ? datanglah ke hot spot ini ! (jangan lupa tempelkan jidat ke jendela)

Yang lebih asik lagi, ada juga yang sengaja datang ke area hot spot ini, tanpa tujuan.  Mereka merapat ke jendela ini untuk sekedar melihat-lihat pemandangan ke luar.  Tanpa bicara.  Hanya merenung. (Om-om dicuekin !) Lagi stress sepertinya !

So : Anda stress ? ingin refreshing ? datanglah ke hot spot ini !

Akibatnya ? yaaa gitu deh.

Pertama saya agak terganggu dengan suaranya.  Kedua saya agak terganggu juga dengan wira-wirinya.  Mengganggu konsentrasi bekerja saja.  Yang ke tiga saya merasa terintimidasi.  Kadang tak sadar, mereka berdiri di belakang saya.  Rasanya nggak enak aja kalau ada orang yang memperhatikan saya dari belakang, melihat-lihat apa yang sedang saya kerjakan di lap top.  Seolah ada yang memata-matai (Temen-temen gitu nggak sih ?)(atau saya aja yang terlalu sensi ?)

Untungnya, (masih ada untungnya nih)

Di meja kerja saya ini nggak ada keripik, kacang, snack atau makanan camilan kecil lainnya.  Jika ada ?  Waaahhh tempat ini tentu akan menjelma menjadi … Super Duper Hot Spot !!! (hahaha)

(Buka cafe aja Ooommm sekalian !!!)
(jual pulsa kek … ? dagang kopi kek …?)

hehehe

Salam saya

om trainer1

.

.

.

.

E MAIL

Ini sedikit cerita tentang surat eletronik.

Dewasa ini, kita sangat mudah membuat alamat surat elektronik secara gratis di internet.  Saya rasa hampir setiap orang yang menggunakan internet pasti punya alamat e-mail. 

Nah.  Saya akan menghubungkan pembuatan akun alamat surat elektronik ini dengan aktifitas melamar pekerjaan.

Untuk memudahkan komunikasi dan korespondensi, banyak perusahaan meminta para pelamar untuk mengirim surat lamaran dan CVnya melalui e mail.  Melalui surat elektronik.

Boleh percaya boleh tidak, sebetulnya proses seleksi itu sudah dimulai dari tahap ini.  Dari tahap pengiriman surat lamaran melalui alamat e mail anda.  Boleh jadi nasib anda itu ditentukan hanya dari alamat e mail yang anda gunakan untuk mengirim CV atau surat lamaran.

Lho memang kenapa dengan alamat e mail kita ?

e mail

Begini …

Saya selalu menyarankan para pencari kerja, untuk mempunyai akun e mail yang baik dan profesional.  Yang baik dan profesional itu yang seperti apa sih Om ?  Ya … yang sesuai dengan namanya saja lah.  Tak usah macam-macam.

Contoh :

Rosita.Tarosi@blablabla.com

Roni_Suroni@blibloble.com

RobiProketoni@blabloble.com

Ita.Panjaitan@%%%%.com

Oji_Taroreh@dddd.com

Ina.Sutejo@tttttt.com

dsb

Pendek kata, buatlah e mail yang sesuai dengan nama kita.  Ya bolehlah nama panggilan plus nama marga/keluarga kita saja, saya rasa masih oke).

Jangan sampai kita mengirim e mail dari alamat dan/atau nama yang aneh-aneh.

SuamiGarang; Elicayankmahmud; cintakuhclaluhpadamuh; r4j4T3g4; OmBergajulantengik; Rinduhbelaiyanmuh; CiyandeLoh; dan sebagainya.

Sssttt …

I tell you a secret.  Panitia penerimaan karyawan itu biasanya langsung MALES memfollow up CV yang berasal dari e mail alay bin ajaib binti aneh seperti itu.  Takut banyak “drama” nantinya ! (hahaha)

Masa-masa itu saya rasa sudah lewat.  Masa-masa lucu-lucuan, alay, haha hihi dengan teman kuliah dan sebagainya itu sudah kedaluarsa (bahkan cenderung norak).  Kini saatnya untuk sedikit lebih serius dengan membuat e mail yang baik dan profesional untuk keperluan melamar pekerjaan.

E mail yang sesuai dengan nama kita, atau paling tidak nama panggilan plus nama keluarga atau marga kita.

(Kalau untuk keperluan yang lainnya sih … ya silakan saja mau pake e mail paling aneh sekalipun tak kan ada yang melarang …)

Setuju ?!

om trainer1.

.

.

.

 

DEMANDING

Demanding itu kalau bahasa gaulnya adalah “banyak maunya”

Sebetulnya kurang begitu tepat, tapi ya sudahlah untuk memudahkan pembahasan anggap saja artinya : banyak maunya.

Ini konteksnya adalah tentang melamar pekerjaan.

Sebuah Cerita Imajiner.

Ada sebuah lowongan pekerjaan.  Pekerjaan yang ditawarkan sangat menantang.  Si Fulan tertarik.  Dia meng-apply, kirim CV dan sebagainya.  Tak lama kemudian datang panggilan.

Tahap pertama : Fulan ditelpon untuk panggilan interview

Si Fulan berkali-kali ditelpon oleh panitia penerimaan pegawai tetapi tidak pernah berhasil.  Panggilan pertama tidak nyambung karena di luar jangkauan, besoknya panggilan ke dua telpon tidak diangkat karena ketinggalan di kosan.  Pada upaya ketiga, telpon berhasil tersambung, namun karena low batt, informasi belum disampaikan … pet … telpon tiba-tiba mati.  Baru pada percobaan yang ke empat, panitia akhirnya berhasil menghubungi dan bicara kepada Fulan tentang rencana proses seleksi selanjutnya, yaitu interview.

(catat 1 : baru dalam tahap panggilan interview saja, si Fulan sudah merepotkan)

Tahap 2 : Janjian interview

Begini bunyi percakapannya :

Panitia  : Kami mau mengundang saudara Fulan untuk datang interview tanggal 22 Agustus 2016. Bisa kah ?
Fulan : Aduh maaf kalau tanggal 22 Agustus saya tidak bisa kebetulan saya ada janji dengan dokter gigi saya. (nawar jilid 1)

Panitia : Bagaimana kalau tanggal 23 Agustus ?
Fulan : Saya juga tidak bisa. Saya sudah ada janji dengan teman saya. (nawar jilid 2)

Panitia : Lalu anda bisanya kapan ?
Fulan : Kalau tanggal 29 Agustus bagaimana ? (nawar jilid 3)

Panitia : OK,  tanggal 29 Agustus 2016.  Jam 10 ya ?
Fulan : Mmmm … bisa siangan nggak ? (nawar jilid 4)

Panitia : (mulai kesal) Bagaimana kalau jam 13.00 ?
Fulan : Okey (tumben nggak nawar lagi)

Panitia : Tempatnya di Ruang “Asem”, Gedung “Garuda”, Jalan “Anu” nomer ### yaa (disebutlah alamat tempat interview.  Sebuah gedung besar dan terkenal, landmark kota, letaknya pun sangat strategis)
Fulan : Okey. (aahh leganya dia tidak nawar juga)

(catat 2 : dalam tahap pembicaraan lewat telpon, si Fulan sudah riwil bingit)(banyak nawar)

Tahap 3 : Hari H interview

Pada hari yang ditentukan, 29 Agustus 2016, pagi hari jam 10.00 Panitia menelpon Fulan kembali untuk mengingatkan bahwa jam 13.00 nanti ada janji interview dst.dst.dst

Mau tau apa jawaban Fulan ?

“Adduuuhhh maaf saya lupa, bisa diundur nggak jamnya ? jangan jam 13.00 ?

Haiyaaaa … !!!

Akhirnya setelah melalui proses nego yang alot, tawar sana tawar sini, disepakatilah interview diundur sampai jam 16.00 sore

Selesai masalahnya kah ? Ternyata belum sodara-sodara !!!

Jam 16.05 (sudah lewat 5 menit dari waktu yang disepakati), si Fulan menelpon panitianya.  Dan mau tau apa yang ditanyakannya ?

Bu … Ruang “Asem”, Gedung “Garuda”, Jalan “Anu” nomer ### itu tepatnya di mana sih ? Ancer-ancernya apa ya ?

Sepertinya saya susah menemukannya deh ? Lagi pula ini kan hari Senin, saya takut kena macet kalo ke sana ?

Bisa ngga tempatnya dirubah.  Yang deket-deket rumah saya saja gitu ?

(enteng banget deh si Fulan ini !)
(perusahaan milik nenek moyangnya mungkin !)

Dan ibu panitia pun terdiam, kepala mulai berasap, lalu berkata dalam hati …

“sepertinya saya memanggil kandidat yang salah nih !!!”

Ibu panitiapun segera nyruput es tellernya ! (biar adem)

Salam saya

om trainer1

.

.

 

.