TRAINING RULES

Setiap memulai suatu sesi pelatihan, para trainer biasanya selalu menayangkan satu slide presentasi yang berisi aturan-aturan yang harus disepakati bersama agar jalannya pelatihan bisa berlangsung dengan baik dan lancar.

Tentang adab di kelas, tidak boleh menyalakan HP, tata cara ke belakang, tertib, angkat tangan ke atas jika ingin bertanya, dan banyak lagi aturan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh.

Saya pun demikian.

Saya selalu membuat kesepakatan bersama peserta yang ikut training saya.  Hal ini bahkan saya tayangkan sebelum acara perkenalan tiba.  Inilah yang saya sebut sebagai Training Rule.

Apa saja aturan di training saya?

Sila perhatikan slide berikut ini :

(background slide by Canva)

Saya tidak menerapkan banyak aturan.  Saya hanya minta mereka untuk : Be Positive, Active Participation, Have Fun, dan Respect,

Be Positive
Makna kata positif ini sangat luas.  Kita berkumpul bersama di ruangan training ini pada hakikatnya didasari oleh sikap positif untuk saling memperbaiki diri dan mengembangkan kompetensi.  Sehingga seluruh perilaku dan sikap kita di kelaspun tentu diharapkan positif, tertib tidak cari musuh, tidak cari masalah.

Active Participation
Berpartisipasi aktif.  Saya perlu menekankan pentingnya sikap ini, karena saya ingin mereka mengambil manfaat sebesar-besarnya dari training yang saya ampu.  Aktif berbagi cerita pengalaman, aktif bertanya, aktif mendengarkan dan juga aktif ikut serta dalam kegiatan kelas, role play, game dan sebagainya.

Have Fun
Ini juga penting.  Saya senantiasa percaya bahwa belajar akan lebih efektif jika kita semua dalam keadaan “fun”.  Senang.  Pikiran segar dan terbuka.  Sehingga saya minta para peserta training untuk have fun.  Tertawa lepas, senang, gembira tanpa harus kelewat batas.  Saya juga menekankan kepada mereka untuk “Please Have Fun, BUT NOT Make Fun”   Bergembiralah tetapi jangan “mengolok-olok” atau membully satu sama lain.

Repect
Saling menghormati satu sama lain.  Dengan menghormati orang lain maka dengan sendirinya kita akan menghormati diri sendiri.  Dengan menghormati diri sendiri maka kita akan senantiasa menjaga sikap.  Tak perlu lagi saya menekankan adab sopan santun bagaimana cara ke belakang, bagaimana menghandel HP, silent phone, mesti diam mendengarkan, bagaiman berbicara, mesti sopan, nggak boleh ini, nggak boleh itu dan sebagainya.  Hanya satu kata “respect” itu saja sudah mengatur semua!  Karena ini andragogi, pendidikan orang dewasa.  Mereka tau mana yang patut dilakukan dan mana yang tidak patut dilakukan.

Itulah aturan yang saya biasa terapkan di kelas jika saya memfasilitasi suatu training atau workshop!

Apa anda pernah mengetahui aturan yang agak “aneh” dan “berbeda” ketika anda ikut training atau yang semacamnya?

Salam saya

.

.

.

Posted in Artikel | 9 Comments

NEW FASHION MODEL

Hari Minggu pagi adalah saat yang tepat untuk berolah raga.

Seperti pada umumnya hari Minggu di mana-mana, biasanya banyak pula bermunculan pasar kaget yang menjual aneka rupa.  Mulai dari odol sampai jilbab.  Dari sosis panggang sampai singkong mentah.  Dari jam tangan kw3 sampai obeng kembang.  Dari ikan cupang sampai kaos kutang.  Komplit sudah.

Olah raganya hanya setengah jam, tapi belanjanya bisa dua jam.  Hahaha.

Di dekat rumah saya juga ada pasar kaget bin senggol seperti ini.  Hanya muncul pada saat Minggu pagi saja.  Selain lapak pasar kaget ada pula mangkal di sana odong-odong aneka rupa, mau yang ajluk-ajlukan ataupun yang model komidi ada semua.  Lengkap dengan lagu hingar bingarnya.

Ada juga beberapa delman dan beberapa ekor kuda ikut meramaikan suasana.  Delman dan kuda ini bisa disewa, untuk dinaiki anak-anak barang satu dua putaran.  Ramai, meriah!  Hiburan masyarakat seminggu sekali.

Ketika beberapa waktu yang lalu saya jalan-jalan ke sana (malu mau bilang olah raga) saya cukup terkesima melihat ada satu lapak yang sangat ramai.  Bapak-ibu, remaja-anak-anak, tua muda banyak merubung lapak ini.  Barang yang dijual digelar di tanah hanya beralaskan terpal plastik tebal berwarna biru.

Saya penasaran, barang apa sih yang dijual kok sampe heboh banget dirubung sekian banyak orang.  Setelah saya ikut melongok ke sana, ternyata yang mereka jual adalah ekor mermaid.  Busana model ekor ikan duyung

Haiyaaaaa …

Saya tidak tau nama bahannya apa, dan bagaimana cara memakainya, namun busana bagian bawah ini emang berbentuk seperti ekor ikan duyung.  Tersedia aneka macam warna.  Kalau tidak salah ada ukurannya juga : S, M, L, XL.  Dalam hati saya bertanya, ini gimana cara menggunakannya? Nanti jalannya gimana? Apa cuma dikibas-kibas kayak ikan duyung itu? Apa ini untuk berenang? Apa buat “ngesot” doang?

Saya berhenti di lapak itu sekitar 5-10 menit.  Menyimak pembicaraan yang terjadi di sana.  Dan dari sana saya pun baru mengerti ternyata ini gara-gara sebuah sinetron di televisi yang mengambil cerita tentang ikan duyung.  Saya lupa judul lengkapnya pokoknya ada kata mermaid mermaid nya gitu lah. 

Rupanya ada sementara orang yang sangat jeli dalam melihat peluang.  Mereka berkreasi diilhami dari sinetron terkenal, sampai tercipta bawahan model “mermaid” ini.  The new fashion model.

 

Lantas dalam perjalanan pulang dari pasar kaget itu saya pun berfikir …

“Ada yang jual “gigi Ganteng-Ganteng Serigala nggak yaaaa?”

Salam saya

.

.

BTW:
Teman-teman ada yang tau? Atau malah mungkin sudah membelikan untuk putri-putrinya. busana model buntut mermaid seperti itu?

.

.

Posted in Artikel | Tagged , , , , , , | 9 Comments

ONLINE SHOP

Toko dalam jaringan.

Saya yakin ada banyak sekali pembaca yang sudah melakukan transaksi jual beli melalui online shop.  Mereka (dan juga mungkin anda) sudah melakukannya sejak lama sekali, sudah bukan merupakan hal yang istimewa lagi.  Ini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.  (Malah mungkin beberapa dari anda justru sekarang mencari nafkah dengan cara mengelola online shop)

Terus terang, saya baru akhir-akhir ini saja melakukannya.  Saya itu orang yang sangat konservatif.  Selalu ragu untuk mencoba sesuatu yang baru.  Termasuk membeli sesuatu melalui toko dalam jaringan.

Mengapa saya ragu?

Ada beberapa alasan sebetulnya.  Namun yang utama adalah masalah keamanan dan “trust”- kepercayaan.  Nanti uang saya dibawa lari?  Apakah akun ini bisa dipercaya? Aduh nanti saya ditipu? Nomer rekening saya aman nggak ya? Dan seribu satu kekhawatiran lainnya.

Sampai suatu hari saya membaca di sebuah portal toko online yang menawarkan fasilitas bayar di tempat, cash on delivery(COD).  Kita baru akan membayar saat barang sudah di terima.  Sayapun tergoda untuk mencoba fasilitas ini.  Akhirnya saya memberanikan diri untuk membeli barang pertama saya di online shop.  Saya masih ingat sekali, yang saya beli waktu itu adalah jam digital seharga Rp.175.000 saja.  Empat hari setelah saya memesan, barang itu, datang diantar oleh kurir.  Saya pun tinggal membayar kepada kurir tersebut.  Case closed.  Simple.  Aman.  Saya senang.

Dan mulai saat itu saya ketagihan! (hahaha)

Saya mulai sering membeli barang lewat online.  Sebut saja tripod, action camera, jam tangan, cover kamera, mp3 player dan juga yang terakhir tas selempang.

Bukan itu saja, kalau dulunya saya hanya mau membeli barang yang ada fasilitas “bayar di tempatnya” saja, sekarang (celakanya) saya mulai berani untuk transfer uang dulu baru terima barang.  Hahaha

Online shop telah membiusku.  (Bencih akuh)

(kekepin dompet kenceng-kenceng)(umpetin kartu ATM)

Salam saya

.

.

.

.

Posted in Artikel | Tagged , , , | 4 Comments

PACKAGING

Packaging.  Kemasan.  Pembungkus.  Packaging intinya adalah wadah untuk menempatkan atau membungkus suatu produk.

Ada beberapa fungsi dasar packaging.

Fungsi packaging yang paling utama tentunya adalah untuk melindungi produk agar kualitasnya tidak berkurang, jika nanti sampai di tangan konsumen.  Packaging melindungi produk saat transportasi, pengiriman, penyimpanan di gudang maupun saat didisplay di rak pajangan para penjual

Packaging juga berfungsi untuk identifikasi dan tempat mencantumkan informasi bagi merek produk yang bersangkutan.  Di atas kemasan tersebut para pabrikan bisa mendesign logo, branding, nama merek dan sebagainya.  Bukan itu saja, mereka juga bisa mencantumkan informasi-informasi lain yang berkaitan dengan produk tersebut.  Ingredient, content, kandungan gizi, komposisi bahan, sertifikasi halal, kode kedaluarsa, kontak layanan konsumen dan sebagainya.

Untuk beberapa produk, packaging juga memudahkan konsumennya untuk membeli dengan ukuran /jumlah yang sesuai dengan apa yang diinginkan/dibutuhkan.  Kemasan satu kilo, satu liter, 20 pieces, satu galon, 225 ml, se lusin dan sebagainya.

Dalam perkembangannya, ternyata packaging tidak hanya berfungsi untuk melindungi, identifikasi, informasi dan menunjukkan satuan penjualan.  Packaging telah berkembang fungsinya ke hal-hal yang lain.

Salah satu inovasi sederhana yang saya pujikan adalah design packaging sebuah produk kudapan kripik kentang multi nasional.  Dengan cerdiknya tim brand/product management perusahaan tersebut mendesign packaging productnya sedemikian rupa, sehingga kemasan tersebut bisa dijadikan properti untuk selfie.  Caranya hanya dengan menambahkan gambar mulut tersenyum saja!

kemasan diperankan oleh model (source : clipart, mspowerpoint)

Saya sempat browsing sana-sini, ternyata kampanye marketing ini awalnya berasal dari Thailand.  Karena dinilai berhasil, lalu mereka menduplikasi inisiatif ini ke beberapa negara lainnya, termasuk Indonesia tentu.  Sebuah negeri yang penggemar selfienya relatif banyak!

SO …

SMILE!

Salam saya

.

.

.

.

Posted in Artikel | Tagged , | 10 Comments