NEW FASHION MODEL

Hari Minggu pagi adalah saat yang tepat untuk berolah raga.

Seperti pada umumnya hari Minggu di mana-mana, biasanya banyak pula bermunculan pasar kaget yang menjual aneka rupa.  Mulai dari odol sampai jilbab.  Dari sosis panggang sampai singkong mentah.  Dari jam tangan kw3 sampai obeng kembang.  Dari ikan cupang sampai kaos kutang.  Komplit sudah.

Olah raganya hanya setengah jam, tapi belanjanya bisa dua jam.  Hahaha.

Di dekat rumah saya juga ada pasar kaget bin senggol seperti ini.  Hanya muncul pada saat Minggu pagi saja.  Selain lapak pasar kaget ada pula mangkal di sana odong-odong aneka rupa, mau yang ajluk-ajlukan ataupun yang model komidi ada semua.  Lengkap dengan lagu hingar bingarnya.

Ada juga beberapa delman dan beberapa ekor kuda ikut meramaikan suasana.  Delman dan kuda ini bisa disewa, untuk dinaiki anak-anak barang satu dua putaran.  Ramai, meriah!  Hiburan masyarakat seminggu sekali.

Ketika beberapa waktu yang lalu saya jalan-jalan ke sana (malu mau bilang olah raga) saya cukup terkesima melihat ada satu lapak yang sangat ramai.  Bapak-ibu, remaja-anak-anak, tua muda banyak merubung lapak ini.  Barang yang dijual digelar di tanah hanya beralaskan terpal plastik tebal berwarna biru.

Saya penasaran, barang apa sih yang dijual kok sampe heboh banget dirubung sekian banyak orang.  Setelah saya ikut melongok ke sana, ternyata yang mereka jual adalah ekor mermaid.  Busana model ekor ikan duyung

Haiyaaaaa …

Saya tidak tau nama bahannya apa, dan bagaimana cara memakainya, namun busana bagian bawah ini emang berbentuk seperti ekor ikan duyung.  Tersedia aneka macam warna.  Kalau tidak salah ada ukurannya juga : S, M, L, XL.  Dalam hati saya bertanya, ini gimana cara menggunakannya? Nanti jalannya gimana? Apa cuma dikibas-kibas kayak ikan duyung itu? Apa ini untuk berenang? Apa buat “ngesot” doang?

Saya berhenti di lapak itu sekitar 5-10 menit.  Menyimak pembicaraan yang terjadi di sana.  Dan dari sana saya pun baru mengerti ternyata ini gara-gara sebuah sinetron di televisi yang mengambil cerita tentang ikan duyung.  Saya lupa judul lengkapnya pokoknya ada kata mermaid mermaid nya gitu lah. 

Rupanya ada sementara orang yang sangat jeli dalam melihat peluang.  Mereka berkreasi diilhami dari sinetron terkenal, sampai tercipta bawahan model “mermaid” ini.  The new fashion model.

 

Lantas dalam perjalanan pulang dari pasar kaget itu saya pun berfikir …

“Ada yang jual “gigi Ganteng-Ganteng Serigala nggak yaaaa?”

Salam saya

.

.

BTW:
Teman-teman ada yang tau? Atau malah mungkin sudah membelikan untuk putri-putrinya. busana model buntut mermaid seperti itu?

.

.

ONLINE SHOP

Toko dalam jaringan.

Saya yakin ada banyak sekali pembaca yang sudah melakukan transaksi jual beli melalui online shop.  Mereka (dan juga mungkin anda) sudah melakukannya sejak lama sekali, sudah bukan merupakan hal yang istimewa lagi.  Ini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.  (Malah mungkin beberapa dari anda justru sekarang mencari nafkah dengan cara mengelola online shop)

Terus terang, saya baru akhir-akhir ini saja melakukannya.  Saya itu orang yang sangat konservatif.  Selalu ragu untuk mencoba sesuatu yang baru.  Termasuk membeli sesuatu melalui toko dalam jaringan.

Mengapa saya ragu?

Ada beberapa alasan sebetulnya.  Namun yang utama adalah masalah keamanan dan “trust”- kepercayaan.  Nanti uang saya dibawa lari?  Apakah akun ini bisa dipercaya? Aduh nanti saya ditipu? Nomer rekening saya aman nggak ya? Dan seribu satu kekhawatiran lainnya.

Sampai suatu hari saya membaca di sebuah portal toko online yang menawarkan fasilitas bayar di tempat, cash on delivery(COD).  Kita baru akan membayar saat barang sudah di terima.  Sayapun tergoda untuk mencoba fasilitas ini.  Akhirnya saya memberanikan diri untuk membeli barang pertama saya di online shop.  Saya masih ingat sekali, yang saya beli waktu itu adalah jam digital seharga Rp.175.000 saja.  Empat hari setelah saya memesan, barang itu, datang diantar oleh kurir.  Saya pun tinggal membayar kepada kurir tersebut.  Case closed.  Simple.  Aman.  Saya senang.

Dan mulai saat itu saya ketagihan! (hahaha)

Saya mulai sering membeli barang lewat online.  Sebut saja tripod, action camera, jam tangan, cover kamera, mp3 player dan juga yang terakhir tas selempang.

Bukan itu saja, kalau dulunya saya hanya mau membeli barang yang ada fasilitas “bayar di tempatnya” saja, sekarang (celakanya) saya mulai berani untuk transfer uang dulu baru terima barang.  Hahaha

Online shop telah membiusku.  (Bencih akuh)

(kekepin dompet kenceng-kenceng)(umpetin kartu ATM)

Salam saya

.

.

.

.

PACKAGING

Packaging.  Kemasan.  Pembungkus.  Packaging intinya adalah wadah untuk menempatkan atau membungkus suatu produk.

Ada beberapa fungsi dasar packaging.

Fungsi packaging yang paling utama tentunya adalah untuk melindungi produk agar kualitasnya tidak berkurang, jika nanti sampai di tangan konsumen.  Packaging melindungi produk saat transportasi, pengiriman, penyimpanan di gudang maupun saat didisplay di rak pajangan para penjual

Packaging juga berfungsi untuk identifikasi dan tempat mencantumkan informasi bagi merek produk yang bersangkutan.  Di atas kemasan tersebut para pabrikan bisa mendesign logo, branding, nama merek dan sebagainya.  Bukan itu saja, mereka juga bisa mencantumkan informasi-informasi lain yang berkaitan dengan produk tersebut.  Ingredient, content, kandungan gizi, komposisi bahan, sertifikasi halal, kode kedaluarsa, kontak layanan konsumen dan sebagainya.

Untuk beberapa produk, packaging juga memudahkan konsumennya untuk membeli dengan ukuran /jumlah yang sesuai dengan apa yang diinginkan/dibutuhkan.  Kemasan satu kilo, satu liter, 20 pieces, satu galon, 225 ml, se lusin dan sebagainya.

Dalam perkembangannya, ternyata packaging tidak hanya berfungsi untuk melindungi, identifikasi, informasi dan menunjukkan satuan penjualan.  Packaging telah berkembang fungsinya ke hal-hal yang lain.

Salah satu inovasi sederhana yang saya pujikan adalah design packaging sebuah produk kudapan kripik kentang multi nasional.  Dengan cerdiknya tim brand/product management perusahaan tersebut mendesign packaging productnya sedemikian rupa, sehingga kemasan tersebut bisa dijadikan properti untuk selfie.  Caranya hanya dengan menambahkan gambar mulut tersenyum saja!

kemasan diperankan oleh model (source : clipart, mspowerpoint)

Saya sempat browsing sana-sini, ternyata kampanye marketing ini awalnya berasal dari Thailand.  Karena dinilai berhasil, lalu mereka menduplikasi inisiatif ini ke beberapa negara lainnya, termasuk Indonesia tentu.  Sebuah negeri yang penggemar selfienya relatif banyak!

SO …

SMILE!

Salam saya

.

.

.

.

CONSUMER ENGAGEMENT

Consumer engagement pengertian sederhananya adalah suatu (rangkaian) aktifitas yang dilakukan oleh produsen produk atau penyedia jasa untuk mendekatkan produk/jasanya pada konsumen.  “Bertunangan” dengan konsumen.  Membina kedekatan dengan konsumen.  Membangun “keterlibatan emosional” konsumen. 

Mungkin dulu orang lebih familier dengan istilah aktifitas iklan dan promosi.  Di zaman sekarang iklan dan promosi saja tidak cukup, harus disertai upaya untuk membina kedekatan yang lebih intim dengan konsumen.

Tanpa bermaksud untuk beriklan, kali ini saya ingin mengangkat salah satu upaya “consumer engagement” yang cerdas yang dilakukan oleh sebuah toko peralatan fotografi terkenal, dan bergengsi yang terletak di daerah Kemang, Jakarta Selatan.

(bukan konsumen sebenarnya)

.

Apa yang mereka lakukan?

Sederhana saja.  Mereka memfoto konsumen yang baru saja membeli peralatan fotografi di toko tersebut satu per satu dan mengunggahnya di social media Instagram.  Mereka mengunggah foto konsumen yang berpose sambil membawa produk yang dibelinya disertai ucapan : “Dear Mr. Nanang Hernanto thank you for shopping at ***KEMANG!”

Dan namanya juga toko peralatan fotografi, foto yang diunggah terlihat sangat tajam, kualitas gambarnya bagus dan tidak asal jepret.  Saya tidak tau apakah mereka memilih konsumen yang akan dipotret atau tidak, namun entah mengapa mereka yang difoto itu, baik tua atau muda, laki-laki atau perempuan, semuanya telihat keren, cantik, ganteng, charming.  Eiylekhan!

Ada pula beberapa foto yang hanya berupa gambar produk saja, tanpa ada wajah konsumennya.  Tetap disertai ucapan :”Dear Mrs. Nuning Hertanti thank you for shopping at ***KEMANG!” 

Menurut perkiraan saya, konsumen yang bersangkutan (i.e Mrs. Nuning) mungkin keberatan jika wajahnya difoto dan diunggah ke social media.  Toko ini tetap menjaga privasi dari masing-masing konsumennya.  Jika tidak berkenan ya tidak diambil gambarnya.  Hanya yang berkenan saja yang diunggah ke social media.  (Atau bisa juga orang yang datang itu merupakan suruhan dari konsumen aslinya)(bisa sopirnya? pegawainya? asistennya? dsb)

Inisiatif sederhana ini (menurut saya), akan mempunyai paling tidak, tiga manfaat.

Bagi konsumen, hal ini bisa menumbuhkan rasa bangga, mereka merasa dihargai.  Disebut namanya secara personal plus wajahnya bisa “nampang” di official social media toko yang terkenal tersebut.

Bagi pabrikan (produsen kamera, tripod, lensa, tas kamera dan sebagainya) ini tentu saja bisa menjadi ajang promosi gratis.  Pembaca pasti melihat, wah kamera merek anu tipe XYZ banyak yang beli ya, sepertinya bagus ini, wah tas kamera merek itu warnanya bagus ya dsb.dsb.dsb

Bagi toko yang bersangkutan tentu ini bisa menjadi sarana untuk lebih mendekatkan diri kepada konsumen setianya.  Harapannya tentu konsumen tersebut (contoh : Mr. Nanang dan Mrs. Nuning tadi) bisa datang kembali, untuk belanja peralatan yang lain.  Dan calon-calon konsumen yang lain pun tidak tertutup kemungkinan akan tertarik untuk berdatangan ke toko, gara-gara melihat foto yang diunggah di social media tersebut.  Entah karena memang tertarik dengan produknya atau mungkin ingin “exist” juga di official social media toko yang bergengsi itu.

Upaya sederhana inilah yang biasa disebut orang : “consumer engagement”.  Upaya mendekatkan diri kepada konsumen.  Membangun keterlibatan emosional antara produsen, produk dan konsumennya.

Anda mau nampang di official social media mereka?

Salam saya

(yang sedang ngekepin dompet, menahan hasrat diri yang membuncah inih)

(pengen banget ke sana!)

.

.

.

.