IMAGINE


Bayangkan kejadian berikut ini …

Ada seseorang, sebut saja namanya Fulan.  Ceritanya Fulan melakukan perjalanan, dengan menggunakan pesawat terbang.  Check in di counter maskapai penerbangan mendapat kursi nomer 29 F.  Ini letaknya di deretan kursi bagian belakang, dekat Jendela.

Tas kopernya dia bawa serta ke cabin.  Tidak dimasukkan ke bagasi.  Takut hilang katanya.

Seperti biasa para petugas boarding, mengatur pintu masuk pesawat untuk penumpang bernomor kursi 1 – 15 melalui pintu depan.  Dan 16 – 30 lewat pintu belakang.  Supaya flownya lancar.  Dan tidak saling bertabrakan.

Tetapi Fulan tidak mengindahkan aturan ini.  Walaupun dia duduk di belakang tetapi dia masuk lewat pintu depan.  Sampai di mulut pintu pesawat, tersaji Surat Kabar hari ini.  Berbagai macam terbitan.  Fulan berdiri lama di mulut pintu … memilih-milih surat kabar yang akan dia baca di pesawat nanti.  Relatif agak lama.  Akibatnya ?  Penumpang yang antri di belakangnya terhenti pergerakannya di tangga, menunggu Fulan memilih koran.  Stuck jilid satu

Ketika berjalan di Gang, mencari-cari tempat duduk … Fulan kembali menimbulkan masalah bagi penumpang yang lain.  Nomer kursinya di belakang … tapi masuk pesawat dari pintu depan … Akibatnya ? Bersimpanganlah dia dengan banyak penumpang.  Fulan berjalan melawan arus … kontra flow.  Dan karena dia membawa serta kopernya … penuhlah gang pesawat dibuatnya.  Again … pergerakan penumpang yang akan naik pesawat menjadi tergangguStuck jilid dua …

Dengan susah payah … melawan arus di gang pesawat yang sempit … akhirnya sampai juga Fulan di tempat duduknya … 29 F.  Dekat jendela.  Fulan celingukan mencari tempat bagasi kosong untuk meletakkan kopernya.  Lumayan lama … and yes … membuat stuck lagi lalu intas penumpang lain yang juga ingin menuju tempat duduk masing-masing.  Stuck jilid tiga …

Singkat kata … berkat bantuan pramugari, didapatlah tempat untuk menyimpan koper kebangsaannya.   Fulan permisi kepada penumpang kursi 29 D dan 29 E.  Terpaksa mereka berdiri dan keluar kursi dulu untuk mempersilahkan Tuan Fulan ini masuk ke tempat duduk nomer 29 F.  di dekat jendela.  Akhirnya Fulan bisa duduk juga.  Aahhh … Penumpang lainpun legaaa …

Oh … jangan senang dulu …
Setelah beberapa saat duduk … ternyata … Fulan kedinginan … dia bermaksud mengambil sweaternya.  Dan asiknya sweater itu masih ketinggalan di koper yang tadi dengan susah payah dicarikan tempatnya di laci bagasi diatas.  Tadi lupa dikeluarkan rupanya.  Pantang menyerah … Fulan kembali permisi pada penumpang kursi 29 D dan 29 E, terpaksa mereka berdiri lagi.  Fulan dengan gagah beraninya … kembali berdesakan dengan penumpang yang masih terus berdatangan, untuk mencapai kopernya.  Perlu waktu beberapa saat untuk “mengodos-odos” kopernya mencari sweater.  Tentu saja … arus lalu lintas penumpang pesawat dan juga awak kabin … kembali terhambat … karena dia melakukannya sambil berdiri di Gang … stuck lagiiii stuck jilid empat.

Singkat kata … ketemulah sweater itu.  Dengan khalant Fulan memakai sweaternya dan kembali ke tempat duduknya (again tentu saja Mas 29 D dan Pak 29 E mesti berdiri dulu, supaya Fulan bisa masuk ke 29 F). 

Fulan membuka korannya … dan lanjut membaca dengan coolnya … di jembreng lebar … (untuuuunnnggg kacamatanya ndak ketinggalan di koper juga …). 

Beberapa menit membaca, tiba-tiba Fulan memencet tombol untuk memanggil pramugari … Minta air hangat katanya.  Untuk minum obat.  Pramugari yang sedang membagikan permen itu pun, menghentikan pekerjaannya demi mengambilkan segelas air hangat untuk sang Fulan …  (Alhamdulillah … 29 D dan 29 E kali ini tak perlu berdiri juga).  Karena obat sudah tersedia di kantongnya.  (Bayangkan kalau obat itu adanya di koper …)(hahahaha bisa berdiri lagi deh Mas 29 D dan Pak 29 E).

Jreng jeng … Waktunya pesawat berangkat.  Pramugari / purser / penyelia kabin telah mengumumkan beberapa pengumuman.  Sesuai standart operating prosedurenya.  Persiapan pesawat untuk segera mengudara.

Oh no … Fulan berulah lagi …

Kali ini … Dia kepingin pipis sodara-sodara … !!!

(hahaha …)

Can you imagine that ?
Kebayang nggak sih ribetnya ?

(kalau saya sih … tak perlu membayangkan … hawong yang duduk di 29 D itu … Saya !!!)

(hahahaha … curhat ni yeeee …).

 

Salam saya

.

.

.

social network

Imelda

hahahhaha curhat ni yeeee

pasang kacamata tidur, dan pura-pura ngga denger, pura-pura ngorok aja, biar dia ngompol hahahah (eh tapi baunya kemana-mana ya?)

niee

Ini kejadian yg lumayan sering didapat om.. Krnapa gak ada peraturan sekalian kalau koper harus masuk ke bagasi yak? hmmm..

Btw.. kok panggilannya MAS om 😉
niee recently posted..Tes KesehatanMy Profile

Pakde Cholik

Kalau itu di pesawat jemaah haji haji bisa bilang ” shobar..shobar..shobar”

Untungnya kok dia bisa -pas duduk di kursinya ya om, kalau dia tiba-tiba duduk teplek di kursi sembarangan wa….pasti tambah 1 lagi hebohnya.

Kalau duduk dekatmu saya hanya ingin tanya : ” Bapak asale soko ngendi ?”

Sadaaf

Salam hangat dari Surabaya
Pakde Cholik recently posted..Tim Tahu dengan Bakso Udang Ala ErwinMy Profile

vizon

Ditambah lagi kalau doi masih sibuk dengan henponnya. Sudah diingatkan untuk off, masih saja me-sms atau bahkan nelpon, yang isinya cuma bilang, “aku sudah di pesawat”. Pramugari sudah mengingatkan, dan malah berdiri cukup lama di samping orang tersebut. Kalau yang ini, stuck level dewa deh, hehe.. 🙂
vizon recently posted..mosasaurusMy Profile

Oyen

whueee… bauk blog eksekutip nyang baru 🙂

hag hag hag… kalo Oyen pertama naik pesawat begeto…xixixixi… dapet kursi belakang naiknya dari depan, nenteng2 barang karena masih takut kalo masukin ke bagasi harus bayar ( imagine, gadis mungil ngotong2 tas gede dan kardus 1).. etapi, alhamdulillah gak bikin penumpang sebelahnya duduk-bediri bolak-balik…nek iya,.. hayo memang nyebeli tenan yo 😛

Asfia

hahaha..
mengutip kalimat om enha “hahahaha bisa berdiri lagi deh Mas 29 D dan Pak 29 E).”

saya udah bisa nebak om siapa dibalik mas 29 D, ternyata bener om NH, hihi

waktu perjalanan kmna itu om?

chocoVanilla

Aduuuh, untung si Fulan gak lagi diare ya, Om 😆

Ada orang tipe begini dan tentu saja sangat menyebalkan. Sayangnya dia gak menyadari bahwa kelakuannya sangat mengganggu orang lain 🙁
chocoVanilla recently posted..Rindu HujanMy Profile

inon

haiiii inyiakkkkkkk
udah lama gak main kemari,,
aku juga sering ngalamin yang kaya gini,,
paling sering kalau naik singa..
apalagi ketemu ibu-ibu yang bawa bayi,, oleh-olehnya ikan asin,,,
ampunn dah ampunnn riweh, berisik , rusuk dan bauuuu ikan asin

nh18

Bagi Mas 29D dan juga bagi penumpang lain …
mudah saja melihatnya …
hawong betul-betul mengganggu arus lalulintas penumpang jeh …

~Ra

🙂 geli-geli gemes jadinya.

karena aku nggak ngalamin, ya sebagai pengamat cuma bisa bilang, mestinya pesawatnya dibuat senyaman mungkin. duduknya nggak perlu bertiga sederet..

eh, gagal paham ya aku om?
~Ra recently posted..Sehabis baca Kafir BersarungMy Profile

ded

Ha3x kalau diteruskan bisa stuck sampai jilid 25 dong Om…..
Btw yang jadi korban Om dong….
Saya juga begitu Om, waktu dari Gorontalo ke Jakarta, minggu lalu. Ada bapak2 yang duduk di seat “pintu emergency” kan lebih awal disampaikan oleh pramugari agar membantu membukakan pintu pada keadaan darurat. Dia masih menelpon
Pramugari : Pak maaf mohon dimatikan handphonenya
Si bapak diam saja berhenti menelpon
Pramugari : Pak mohon dimatikan teleponnya
Si Bapak : Sudah di setting ‘airplane mode’
Pramugari : Maaf Pak tidak bisa, harus dimatikan
——-
Saya melihat pramugari itu berubah wajahnya (seperti mau menangis), akhirnya pergi (mungkin menenangkan diri)
Beberapa menit kemudian baru kembali lagi….
ded recently posted..JAGUNG PULUTMy Profile

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge