DILEMA REUNI

.
Beberapa waktu yang lalu saya bertemu dengan dua orang teman SD saya.  Teman sekelas dulu, back in 1970 – 1975.  (Hampir empat puluh tahun yang lalu) SD kami itu SD negeri, sangat sederhana, di pinggiran Jakarta.  Bangunannya dulu masih menumpang di bekas bangunan lama asrama mahasiswa yang sudah tidak dipakai lagi.  Anda tentu tau artinya “bekas” dan “lama” kan ?.  Ya … memang begitulah keadaannya.  Relatif tidak terawat.

Kami bermaksud mengumpulkan kembali teman-teman lama kami jaman SD itu.  Ingin mengenang kembali masa-masa manis dulu.  Masa yang penuh keterbatasan namun indah. 

Mengumpulkan semuanya … TANPA TERKECUALI.

Namun kami sadar … ini hal yang tidak mudah.
Pertama mungkin adalah masalah pencarian teman-teman, yang sekarang entah sudah beredar dimana.

Yang kedua adalah … tidak semua teman-teman ini bernasib baik.  Kehidupan yang keras kerap menghimpit perekonomian keluarga mereka.  Saya dengar dari cerita 2 teman saya yang bertemu kemarin itu, ada teman yang menjadi tukang ojek.  Ada pula teman wanita kami yang menjadi petugas cleaning service di suatu universitas.  Dan seribu satu kisah hidup teman-teman kami yang membuat saya banyak merenung sore itu.

Sudah menjadi hal yang umum … bahwa biasanya mereka yang (menganggap dirinya) bernasib kurang baik … agak enggan datang ke Reuni.

Kami tidak mau hal ini terjadi.  Kami harus mendesign sedemikian rupa reuni kami ini menjadi ajang yang nyaman dikunjungi oleh teman-teman lama kami.  Semuanya.  Bagaimanapun keadaannya.

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana membuat setiap orang nyaman ?
Ini membutuhkan pemikiran yang lumayan rumit.  Reuni itu tentu butuh biaya… at least untuk makanan dan minuman.  Biasanya yang dilakukan adalah … Iuran atau Sumbangan.  Ditanggung bersama-sama.  Setiap orang berkontribusi.

Dan bicara soal iuran … ini juga serba salah nih.  Jika teman-teman yang kurang beruntung itu dibebani iuran … tentu akan (sangat) memberatkan.  Namun di sisi lain … jika mereka digratiskan … tidak membayar iuran.  Ini takut menyinggung perasaan mereka.  Takutnya mereka berfikiran :”Nggak bayar iuran kok mau dateng.  Nggak tau diri bener gua”.  Atau yang lebih ekstrim lagi : “Elu menghina gua ya … elu jangan anggap enteng gua … Walaupun gua miskin tapi gua pantang dikasihani … “ dst-dst-dst.

Belum lagi bahan obrolan !
Panitia harus pintar-pintar mengendalikan jalannya acara, agar jangan sampai nanti malah jadi ajang pamer … ajang unjuk kepunyaan … ajang “toko berjalan” dan yang sejenisnya.  Yakin ini akan membuat mereka yang kurang beruntung menjadi sangat tidak nyaman dan minder.  Frekuensipun bisa ndak nyucuk … yang satu bicara bisnis milyaran rupiah … yang satunya hanya kenal karbol dan knalpot.  Yang satu cerita Paris … yang satu cerita Parung.  Sungguh nggak pas sama sekali.

Bahan obrolan harus diarahkan sedemikian rupa … ke arah kenangan masa kecil saja … kenakalan kita dulu … kelas kita yang hampir roboh … dinding kelas yang bolong … lantai tanah yang becek jika hujan … piket nyapu dan ngepel tiap hari … bawa taplak meja … bayar sekolah pake beras … diseruduk kebo … maling jambu … cerita Pak Guru yang kalo sore jualan Bakso di pasar… main angklung di depan pak Camat … maen kasti bolanya hilang melulu … si Itu berantem dengan si Anu … si Oni naksir si Ina … Si Ino kirim surat ke si Nia lewat buku PR … si Ono korengan nggak sembuh-sembuh … si Ini suka telat … di Ani kalo pake bedak suka ketebelan … maen drama joko tarub … pentas tujuh belasan … pawai obor keliling kampung … aahhh sebetulnya masih banyak lagi kenangan-kenangan masa kecil dulu …

Sekali lagi …
Adalah pekerjaan besar bagi kami … untuk membuat mereka yang mungkin kurang beruntung untuk juga bisa datang di reuni tersebut.  Tidak malu, minder atau sungkan.  Kami ingin mereka juga menikmati reuni tersebut … bagaimanapun mereka adalah teman kami dulu.  Kita semua pernah satu kelas… dan tak ada yang bisa mengubah sejarah ini … tak ada yang bisa menyangkal kenyataan ini …

Semoga pertemuan kami nanti bisa terlaksana … dan kami semuanya … tanpa terkecuali … bisa menikmatinya. 

Seperti kami menikmati indahnya masa SD kami dulu …
di sebuah SD Negeri sederhana …
di pinggiran Jakarta.

Salam saya

.

.

.

BTW :
Berdasarkan pengalaman atau pemikiran teman-teman
Apakah teman-teman punya usulan / masukan
Bagaimana agar reuni tersebut bisa nyaman bagi semua teman … tanpa terkecuali ,  bagaimanapun kondisinya kini ?
Boleh sharing tak ?
Thank sebelumnya ya … !

.

 

Incoming search terms:

  • baju utk acara reuni
  • Reoni enak a gimana ea ??? keder
  • cara membuat suasana reuni jadi seru
  • alhamdulillah sumbangan reuni sudah banyak
  • Reuni dan musuh lama

social network

Esti Sulistyawan

Urun rembug ya Om, kalo saya sih untuk reuni belum pernah yg rame2 gtu
Tapi beberapa bulan lalu Mami cerita kalo reunian sama teman2 SMP dulu dan saat ini mereka semua menginjak usia 60 tahun
Mami keliatan seneng banget,
Memang ada beberapa teman yang agak berbeda karena ‘dulu’ punya pangkat tinggi dan kaya
Tetapi sepertinya itu tidak jadi kendala bahkan ketika ada yang kurang beruntung pun, semua ikutan ngumpul. Kebanyakan cerita mereka tentang masa kecil, gak ada yang pamer gitu.
Untuk iuran, bagi yang kurang beruntung bisa seikhlasnya aja.
Yang penting bukan ubo rampenya tapi silahturahminya.Ih jadi panjang banget. hehehe
Esti Sulistyawan recently posted..Liburan dan Indosat SuperWiFiMy Profile

Pakde Cholik

Saya juga pernah merencanakan reuni SFD seperti itu tapi memang kurang berhasil karena yang merasa “kurang beruntung” isin.

Bebarap saran:

1. Lakukan kampanye berbisik kepada mereka yang mampu agar mau iuran lebih. Kepada yang kurang mampu katakan dalam undangan” jika sahabat ingin membawa kue kesayangan kita waktu SD dulu tentu sangat gayeng.”.
2. Bahan obrolan yang ringan2 saja, jangan ada yang ingin “unjuk gigi” dengan kesuksesannya. Jika yang sukses bisa membantu lowongan pekerjaan bagi yang tidak mampu tentu sangat baik. Om gak usah cerita tentang monetize blog, how to conduct effective training, dll.

3. Hidangan yang membumi dan merakyat saja om. Kalau dihidangkan makanan planet misalnya “pizza” nanti yang nggak biasa malah nggak menikmati. Sop buntut atau kikil juga belum tentu suka semuanya. Gado-gado lunak kayaknya lebih pas

4. Kalau om punya arloji emas putih atau sepatu ” Bali” jangan dipakai..pakai sepatu trepes /keplek saja (apa sih namanya?)

5. Dalam sambutan, bangkitkan semangat mereka. Joke yang cerdas dan menyentuh hati yang kurang mampu tentu akan membuat suasana cair.

Sekian saran saya. Before and after I say thousands thank you

Salam hangat dari Surabaya
Pakde Cholik recently posted..Den Haag Aku Merindukanmu: Part 1My Profile

nh18

Waaaa… dapet masukan banyak dari Pak De …

Thanks Pak De
(hidangan yang merakyat … itu kami catat pak de … Tapi ndak usah ditekankan Gado-gado empuk gitu dong …)(eiykeh kan jadi malyuuu …)

sary melati

coba cari sponsor, om.. bisa dari alumni yang sudah sukses.. dan untuk menjaga perasaan teman yg lain, pemberi sponsor ini mungkin bersedia tidak dipublikasikan 😀

atau cari sponsor lain, kadang2 ada juga perusahaan yg bersedia mensponsori reuni sekolah, temanku pernah soalnya.. mungkin ada kesepakatan-kesepakatan, tapi gak ada salahnya dicoba 🙂

sary melati

coba cari sponsor, om.. bisa dari alumni yang sudah sukses.. dan untuk menjaga perasaan teman yg lain, pemberi sponsor ini mungkin bersedia tidak dipublikasikan 😀

atau cari sponsor lain, kadang2 ada juga perusahaan yg bersedia mensponsori reuni sekolah, temanku pernah soalnya.. mungkin ada kesepakatan-kesepakatan, tapi gak ada salahnya dicoba 🙂

Vyan RH

Aku pernah ngalami hal seperti ini, Om..
Cara yg tim reuni gunakan adalah:
1. Siapa saja tetap ditarik iuran gotong royong (dimasukkan dalam amplop tertutup).
2. Membentuk “donatur” khusus secara “TST”3. Lokasi reuni di sekolah asal, kecuali sekolahnya udah ngga ada lagi 😀
4. Panitia mempersiapkan diri utk mereka yang “mengganggap” kurang beruntung dengan pendekatan lebih intensif dan penekanan “arti silaturahmi” Menyediakan “bantuan transportasi” bagi yg jauh.
5. Seperti kata pakdhe diatas, tidak boleh “pamer” diantaranya pakaian boleh bebas asal sopan (kaos, sendal) dan tempat duduk secara lesehan.
Kurang lebih begitu yang aku alami dan alhamdulillah sukses… 😀
Vyan RH recently posted..Mengapa Facebook sangat disukai orang? (Why do people loves Facebook?)My Profile

nh18

Wah … terima kasih sharingnya Pyan …
saya suka yang … “lesehan” … sepertinya ini bagus nih …

nique

pernah ngalamin om, pas pula diadainya di rumah saya. itu cuma reuni sekelas doang sih. tapi itu tadi, nasib kami semua tidak sama. Ada yang susah banget ada yang di atas banget 🙁 jadi serba salah. nona rumah harus ekstra bergerak menghampiri terutama meluangkan lebih banyak waktu teman2 yg perekonomiannya biasa saja.

Ini reuni 1 kelas doang, saya sih gak bisa mbayangin klo lebih banyak lagi, pasti lebih ribet deh 🙁

klo ditanya gimana bikin suasana reuni bisa nyaman, klo kayak kami yang orangnya lebih sedikit sih lebih mudah om, apalagi acaranya pun cuma ngobrol2 aja, kangen2an doang, gak ada games ato apapunlah. Ngobrol dan makan2, udah gitu aja hehehe … dan tetep aja berkesan sih menurut kami hehehe

soal biaya waktu itu kami2 yg merasa mampu bersepakat dulu untuk menalangi sebagian besar dananya, dan pada yang lain kami minta semampunya aja, taro di kotak gitu om. jadi ya tau sama tau aja, gak dibahas2 gitu.
nique recently posted..Ruang SempitMy Profile

nh18

Yang akan kami kumpulkan juga cuma teman satu kelas Nik … jumlahnya mungkin tak sampai 30 …

Terima kasih banget masukannya ya …
Sumbangan masukin kotak … (itu solusi yang bagus)

alaika

saya sepakat dengan pakdhe, terutama dalam ide kampanye berbisiknya itu… selain untuk memancing iuran lebih dari para ‘yang lebih makmur’ juga untuk memberi masukan pada mereka tentang topik obrolan. Terkadang, orang yang lebih makmur tanpa sengaja/sadar, udah aja berceloteh ttg keberhasilannya. Nah, dlm kampanye berbisik ini, tekankan topik obrolannya bhw mending mengenang kenangan indah dan lucu masa lalu misalnya…

idenya mba Sary juga patut dicoba tuh Om, mungkin bisa dapat sponsor. 🙂

semoga reuni nya nanti berjalan lancar sesuai yang diharapkan ya Om…

mimi

wah..perlu pemikiran matang utk menciptakan suasana aman dan nyaman utk semua peserta reuni ya om…krn pengalaman mimi..ga ada reuni itu ga pamer. wlw ruang lingkupnya hny bbrp orang.
ga bisa kasi saran cuma berharap smg acara nya benar terlaksana dan sesuai harapan. 😀

nh18

Betul Mi …
kan ndak enak kalo yang datang tidak bisa menikmati secara optimal … sungkan dan sebagainya

niken

Saya habis menghadiri reuni akbar om. Memang saya bukan panitia. Tapi saya puas dengan apa yang dikerjakan panitia.
Memang ada cara bisik-bisik itu om… Jadi bisa saling menutupi kekurangan terutama dlm hal biaya. Dan hidangan membumi yg disiapkan panitia justru yang lebih cepat habis. Seperti mendoan, singkong, dage, apem.

Kalau saya pernah mengadakan reuni kecil seangkatan, kami cara potlak… siapa membawa apa. Jadi makanan dari kami untuk kami. Dengan begitu semua merasa andil disitu sesuai kemampuannya.

Pernah juga reuni kecil di rumah makan. Model bantingan gitu om… Patungan maksudnya.

nh18

Ya …
Urunan makanan memang sepertinya solusi yang patut dipertimbangkan … terima kasih Bu Niken

Imelda

hmmm kebetulan aku juga sedang persiapkan reuni SMP. 30 tahun! Tiba-tiba banyak yang mau ngumpul wkt aku tanya apa bisa …. 40 orang membalas bisa + 5 guru!

Daaaan…. ada yang kuaya banget, bisa nyumbang semuanya. Dengan manis harus aku tolak 🙂 Sedapat mungkin mendengar pendapat byk orang, dan membentuk panitia kecil.

Tapi …. memang susah deh kalau mau membuat semua senang. Semaksimalnya saja di-netral-kan spt pelaksanaan di sekolah lama (kalau di rumah nanti akan bandingkan dgn rumahnya sendiri), makanan jajanan jaman itu atau bawa potluck, lalu buat kotak dana seberapapun mau nyumbang spt kolekte tanpa nama. Ya seperti yang diusulkan di atas.

TAPI sekuatnya kita berusaha kalau ada yang tetap MINDER entah krn ekonomi /status (cerai, terlibat korupsi, benci pada salah satu teman dsb ), kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kecuali punya waktu banyak mengadakan pendekatan pada mereka-mereka yang diasumsi minder itu….

Good luck untuk reuninya ya 🙂 (and for me also 😀 )

nh18

Saya setuju dengan langkahmu …
sebisa mungkin sih … ini partisipasi banyak orang … jangan sampe hanya dibiayai oleh seorang saja …
namun ya itu tadi … kita harus pintar-pintar mengatur

mengenai temu kangen di sekolah (atau di dekat sekolah) … hmmm boleh juga nih

thanks EM

Djangan Pakies net

Terus terang, sampai umur segini saya belum punya kesempatan reuni dengan teman-teman SD, SMP apalagi SMA dan seterusnya. Pas tahun kemarin reuni SMA, ada hal yang menarik dari pemberitahuan yang disampaikan secara berantai:
1. Saat acara, semua peserta diberikan seragam yang sama dan harus meninggalkan semua atribut yang disandangnya, ini untuk menghindari kesenjangan sosial.
2. Masalah dana, jauh sebelumnya dibebankan pada semua alumni yang mampu secara finansial dan kenyataannya, dana yang terkumpul jauh melebihi dari yang direncanakan

Nah kebetulan pas hari H reuni, saya ada halangan sangat mendesak sehingga nggak hadir. Menurut teman, saat reuni berlangsung sangat seru karena semua yang hadir ‘berseragam sama’ dan acaranya nggak formal. Maka suasana 25 tahun lalu seperti terulang kembali
Djangan Pakies net recently posted..Hasrat Menggebu Menjadi PemimpinMy Profile

nh18

Hmmm …
seragam yang sama …
dan itu saya asumsikan dibagikan secara gratis ya Pak …

(walaupun sebetulnya ini hasil sumbangan beberapa orang donatur)

salam saya Pak Is

Necky

Pengalaman kemarin ngadain reuni sih…:
1. kita menyasar teman2 yang bisa menjadi donatur. Kalau sudah nutupin mah ga perlu repot nyari penyawer yg lain
2. buat acara di tempat yg tidak eksklusif kalau bisa di sekitar sekolah dulu sekalian buat memori yg ok
3. untuk teman2 yg kurang beruntung, pastikan temen terdekatnya untuk membujuk supaya datang ke acara
4. Pake seragam pak, entah t-shirt atau polo shirt agar menghindari perbedaan yg mencolok.
5. Buat games sederhana saat acara buat ice breaking. Pasti om enha yg jagonya lah…secara trainer gicu lho
Necky recently posted..After 25 YearsMy Profile

nh18

Mantap Pak Neck …
Terima kasih inputannya …

saya suka sekali dengan usulan tempat yang tidak Eksklusif …

Kalau tempat seperti Resto Situ Gintung .. kira-kira cocok nggak Pak Neck …

Idah Ceris

Si Anu dan Si Oni itu kan saudara ya, Om. 😀

Harus ada suatu konspirasi, Om. konspirasi untuk kebaikan gak ada salahnya, kan?

Tema acara temu kangen saja. Kalau reuni tuh rasanya menggelegar. Ya, walaupun sebernarnya intinya sama. 😆

Dalam undangan disertakan ketentuan2 khusus, seperti pakaian yang sederhana. Kalau bisa si satu tema saja, BATIK. Merakyat dan akan terlihat sama, kan?

Tugas Om adalah merayu dan membujuk mereka yang sepertinya “enggan” ikut.
Masalah dana, sudah dijawab oleh sahabat yang lain. 🙂
Idah Ceris recently posted..Cherry Belle (akan) Beraksi di BanjarnegaraMy Profile

nh18

Kalo Batik …
takutnya akan keliatan banget Dah …
dari bahan-corak dan designnya … kita bisa melihat mana batik yang mahal mana yang tidak mahal … saya rasa ini juga harus hati-hati …

Tetapi mengenai “konspirasi untuk kebaikan” saya setuju banget tuh … mantep …

Thanks Idah

Idah Ceris

Berarti beda pandangan ya, Om.

Karena kalau menurutku batik itu adalah pakaian yang merakyat, bahkan sangat merakyat. Semua orang pasti punya batik, Om.

Terlihat mahal, baik atau tidak batik tersebut itu tergantung “hanger” nya, Om. 😆
Idah Ceris recently posted..Jembatan Sigaluh-Sempol AmbrukMy Profile

Imelda

yup setuju kata Idah, aku juga menghindari kata REUNI, dan memakai kata Temu Kangen. Juga memakai seragam tapi bukan batik 😀
Yang lucu, ada yang maunya pakai seragam jaman dulu, jadi putih/kotak-kotak dan putih/biru. Haiyah
Kalau perempuannya sih rok jadi tidak pengaruh, tapi kalau laki-lakinya celana pendek ….hiiiii… bebulu semua ngga ku ku….. hahhaha.
So, pakai baju apa saja asal ada nuansa jaman dulu dan akhirnya ditentukan atasan merah dan bawahan hitam 😀

keke naima

banyak usulan yg udah lebih dahulu komen sy setuju om.. Tambahan sdkt aja dr saya, mungkin sebaiknya yang bernasib lebih baik yang merangkul duluan.. Karena bisa jadi yg bernasib kurang baik akan merasa gak enak utk bergabung, entah itu karena malu dan lain sebagainya.. Tapi kalo teman-temannya yang bernasib lebih baik bisa merangkul mereka, bisa bersikap hangat dan sejajar dengan mereka seperti saat sekolah dulu saya rasa suasana akan cair dengan sendirinya.. Mungkin sebelum di adakan reuni, antara sesama yang bernasib baik bs bincang2 dulu “di belakang” seperti apa harus bersikap supaya suasana bisa hangat tanpa ada kesenjangan dan tanpa ada kelompok2an.. Semoga sukses acaranya ya om 🙂
keke naima recently posted..Jalan-Jalan Nekat – CampingMy Profile

keke naima

o’ya om boleh ya sy komen lagi 😀

Om saya pernah cerita, kalo temen2 SMPnya dulu gak cuma sekedar kumpul. Tapi juga bikin semacam donatur gitu deh. Tujuannya utk membantu teman2 seangkatan yang kurang mampu. Di kerjakannya serius loh om.. Mereka rajin mendata siapa aja teman2 mereka yang mampu dan tdk.. Ketika om saya, kehilangan pekerjaan. Om saya selalu dapet bantuan dari mereka. Tiap bulan di kirim sembako.. Mala kata om saya jumlah sembako tiap bulan yg di kirim itu banyak banget utk ukuran keluarga mrk. Jadinya om sy minta di kirim setengah aja, sisanya di ganti uang dan ternyata boleh. Gak ada jarak di antara mereka. Dalam artian, teman2 yang sedang bernasib kurang baik tdk menjadi menjauh. Yang bernasib baik pun selalu membantu temannya.. Itu kegiatan positif mnrt saya.. Tapi memang harus serius dan di kelola secara benar serta tetap menjaga komunikasi yang baik dg sesama teman apapun keadaan mereka kayaknya ya om.. 🙂
keke naima recently posted..Jalan-Jalan Nekat – CampingMy Profile

affanibnu

gimana terus om perkembangannya.. ?
minimal ada nomer kontak ato facebook lah..

🙂

kalo saya reuni SMP cuma 9 orang, karena kelas akselerasi.. 😀
affanibnu recently posted..PAYUNGMy Profile

Lidya

betul om, jangan jadi ajang pamer ya. saya biasanya milih-milih datang ke acara reuni kalau kurang nyaman saya tidak datang. eh ini juga berlaku untuk kopdar sekiranya kurang nyaman saya tidak ikutan 🙂
Lidya recently posted..Kasih IbuMy Profile

Dhymalk dhykTa

Membuat reunian memang yang tersulit adalah kekompakan, jangankan reunian SD om, reunian teman kampus sj biasanya sdh rada sulit aplg sdh berbeda pulau.

Ketika sy dipihak “yg kurang beruntung” mestinya sy yg hrs lbh smangat datang, why? sapa tahu dgn ketemu rekan sy, rezeki saya ada disitu, silaturahmi itu membawa rezeki, that’s the power of networking.

Klo tips spy mereka datang saya rasa buatlah reunian yang simple but unforgottable…
Dhymalk dhykTa recently posted..Malaysia Musuh Atau Saudara SerumpunMy Profile

arman

untuk biaya mungkin bisa dengan nyari sponsor om. kalo ada sponsor kan jadi semuanya gak usah iuran lagi. atau paling gak, iurannya bisa dibikin sukarela. terserah mau nyumbang berapa.

untuk masalah topik pembicaraan, paling kalo bisa, dibikin padat acara. jadi acara ngobrol bebas nya limited time banget supaya gak sampe jadi ajang bragging atau jualan.

moga2 reuni nya bisa berjalan lancar ya om!
arman recently posted..Kartu NatalMy Profile

Ari Tunsa

Sekarang sekolahnya masih ada nggak Om?
kumpul di situ aja… dan perlu diingatkan kepada temen-temen Om yang sudah berDASI untuk memarkir mobil/pesawatnya jauh dari tempat acara. Kalo perlu panitianya harus pinter ngasih tau tempat lapang yang agak jauh buat parkir. Atau kalo mau ya naik sepeda ontel aja dari rumah masing-masing, hihi..

Wah, senang ya ketemu temen lama. Kalo saya SDnya di Desa, jadi tiap pulkam ya ketemu, paling nggak yang udah merantau di luar pasti suatu saat akan pulang juga, jadi bisa gampang kalo mau reunian 😀

salam
Ari Tunsa recently posted..13My Profile

Akhmad Muhaimin Azzet

Bagi yang mampu secara ekonomi, perlu dirunding diam-diam agar memberikan iuran biaya yang lebih.

Ada kesepakatan untuk hadir ke reuni dengan pakaian sederhana.

Perbincangan di reuni yang paling asyik bagi semua adalah membincang kenangan masa lalu, bukan keberhasilan setelah lulus sekolah.
Akhmad Muhaimin Azzet recently posted..Waktu Mustajab untuk BerdoaMy Profile

evi

Om, kalau untuk iuran digratiskan saja, semua orang gak perlu bayar. Tentunya dng menggandeng sponsor dong. Terus usahakan yg mengundang adalah teman2 dekat mereka waktu di sd itu. Memang hrg ada briefing sebelumnya bahwa ini ajang reuni, bukan yg lain. Berpakaian dan berdandan sewajarnya saja. Syukur2 kalo ada yg mensponsori pakaian seragam.

Mechta

untuk datang ke reuni memang keputusan masing2 ya Pak..namun kita tentu dapat mengusahakannya, banyak masukan yg bagus dikomen2 sebelumnya… saya sangat setuju kalau bisa dilokasi lama (kalau masih ada..) biar krasa nostalgianya.. trus utk pakaian bisa dibuatkan kaos agar seragam dan untuk dananya kalau ada sponsor bagus juga, sedangkan iuran pesertanya sukarela saja… semoga sukses reuninya Pak 🙂
Mechta recently posted..Dibuang sayang…My Profile

kakaakin

Setuju banget dengan adanya dresscode yang simpel. Trus tempat pertemuan di gedung sekolah yang dulu itu aja, kalo masih ada 🙂
Kalo masih ada wali kelasnya sekalian, pasti tambah heboh keknya 😀
kakaakin recently posted..Pantai… Oh Pantai…My Profile

Oyen

hmmm… belon pernah reuni sama temen2 SD, tapi pernah belajar tentang pengalaman reuni teman,
1. bikin judul dan tema acara, untuk mengarahkan agar tidak keluar dari pembicaraan yang disepakati, misal “kangenku padamu, karena nakalmu jaman dulu” haiyahhhh…elekkk banget 😛
2. ada sponsor bikin kaos sederhana (bagi yg bisa nyari atau jadi sponsor): selain dresscode juga sekaligus kenang2an saat reuni
3. ada pemilihan beberapa teman yg berkesan : misal temen ter nakal, temen ter unyu, temen telatan, temen terkriting…xixixi… hadiahnya gak usah mewah2, yang penting ada semacam penghargaan kecil untuk mereka yang datang
4. naahh.. yang berpotensi minder, diserahi tugas saat acara, biar mengupayakan untuk datang, misal nyampein pesan-kesan, atau ada temen terdekat yang bisa mengupayakan untuk berkunjung ke rumahnya buat ngomporin, nek kakak pernah ndesain dengan undangan yang nampilin foto-foto jaman dulu, dan testimoni beberapa temen, kayak Dari si Ayan : “Si Uyun nangdi saiki? mugo2 engko iso ketemu, kangen botake je” dan cukup mbikin yang lain juga pada penasaran sama kedatangan semua temen2…
5. udah ah ituh ajah 😛
6. sungkem 😛

opickaza

wah seneng juga kalau reuni besar sd bersama kawan kawan ane juga mau kapan yah ane bisa reuni akbar sd bersama teman teman
wah bapak nih semangat yah masih tetap reunian sd sama teman temannya

Orin

Maaf, belum bisa memberikan pendapat Om, cukup trauma ber-reuni ria.

Waktu itu reuni teman2 SMU, saya sudah lulus kuliah tapi masih jobless, alih-alih bernostalgia semasa sekolah dulu, teman2 memang sptnya berlomba menunjukkan sudah menjadi apa/siapa dirinya. Padahal lokasinya pun di sekolah, di halaman mushola yg menyambung ke halaman basket, tapi ya begitulah… terpaksa saya jadi minder *halah* hihihihi

Sejauh ini belum reunian lg Om, kecuali bertemu sesama gank saja dalam kelompok kecil.
Orin recently posted..AlarmMy Profile

niee

Waaahh.. jadi mikir apa kabar temen temen sd aku yak? soalnya dari sd – kuliah yg sama sekali gak pernah ngumpul lagi adalah temen SD. entah kenapa rasanya kurang berkesan aja gt. Padahal bertemannya selama 6 tahun dan hampir jarang ganti personil kecuali ada anak baru atau temen yg gak naek kelas.

Kalau ide seh belum bs ngasih om. tapi pengalaman aku pernah bbrp kali reuni dg temen sma yg paling berkesan itu ke panti asuhan. terakhir reuninya di hotel sepi peminat karena merasa terlalu mewah dan kurang kena aja dengan yg kurang mampu.
niee recently posted..dan.. Para Pemenang..My Profile

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge