KARSINI # 6 : AYUMI

Karsini

Karsini 2013 yang ini agak lain …

Please baca dengan seksama tulisan dibawah ini …
Apakah anda bisa menerka, siapa penulis tamu yang mengarang tulisan ini ???

KARYA SIAPA INI ???

AYUMI

Malam itu, pertandingan bola di TV sedang memanas saat Ayumi datang. Pipi kanannya memerah, ujung bibir kirinya berdarah, rambutnya masai menutupi matanya yang masih terus menghujan.

            “Kenapa kamu Ay?” tanyaku geram.
            “Izinkan aku tidur di sini malam ini Ken.” Ucapnya parau, tak mau menatap mataku.
            “Kamu sudah makan?” aku lirik kotak pizza yang tersisa 1 slice di sudut meja, Ayumi lebih kurus sejak terakhir kali aku melihatnya.
            “Beri aku segelas air putih, Ken.” Ayumi terduduk menggigil di sofa, menatap pertandingan di TV dengan hampa, lantas menyerahkan gelas yang kini telah kosong padaku.

            “Kamu mau mandi?”
            “Aku mau tidur boleh ya…” detik berikutnya dia meringkuk di sofa yang sama. Membuatku harus mengecilkan volume TV dan bersorak sorai tertahan dengan mulut yang harus aku mute.

 -o-

             “Aku mencintaimu Ay.” di suatu senja sebulan lalu, aku meneleponnya.
            “Tapi aku mencintainya Ken, kamu tahu itu kan?”

            “Tapi dia selalu menyakitimu.”
            “Dia tetap mencintaiku Ken.”

            “Cinta macam apa yang selalu membuatmu terluka seperti itu?”
            “Dia hanya sedang sakit. Aku ingin membantunya untuk sembuh.”

            “Kamu bukan dokter Ay, dan bukan kewajibanmu untuk merawatnya.”
            “Mmmm… aku sudah menjadi istrinya Ken.”

            “Apa??? Lelaki keparat itu sekarang menjadi suamimu Ay?” tanpa sadar tanganku mengepal lantas meninju tembok di sampingku.

            “Dia mencintaiku Ken, pahamilah itu.”
            “Tapi aku juga mencintaimu Ay, dan aku tidak akan menyiksamu seperti lelaki keparat itu.”

            “Dia yang memintaku jadi istrinya Ken, bukan kamu…” Ayumi mengakhiri percakapan kami saat aku tak mampu membalas kalimatnya. Membuatku terdiam lebih sunyi setelahnya dengan tangan kanan berdenyut perih. Saat itu, hatiku pun terlanjur pilu.

 -o-

             Ayumi datang lagi ke apartemenku di sebuah malam berhujan badai, petir yang menyambar-nyambar rupanya tidak membuatnya gentar untuk datang menemuiku.

            “Apa yang dilakukan lelaki keparat itu padamu kali ini Ay?” pelipis kanan Ayumi berdarah, dagunya menghijau lebam, baju basahnya yang sobek membuatku bisa menatap bahu putihnya yang juga memar.

            “Bukan salah dia Ken.” ujarnya dengan bibir gemetar, ternyata salah satu giginya ada yang patah, menyisakan gusi yang memerah darah..

            “Ya, itu memang salahmu Ay, kamu mencintai lelaki yang salah.” ingin aku berseru begitu padanya, tapi Ayumi terkulai pingsan di lenganku sebelum aku sempat mengucapkannya. Membuatku hanya  mampu mendekapnya erat, membagi hidupku yang mungkin bisa kembali membuatnya tersenyum.

 -o-

            “Aku mohon Ay, jangan kembali padanya.”
            “Tidak bisa Ken, dia membutuhkanku, melebihi apapun.”

            “Apakah kamu juga membutuhkannya?” Ayumi menatapku nanar, “jawab aku Ay.”
            “Carilah wanita lain untuk kau cintai Ken.”

            “Aku hanya mencintaimu Ay.”
            “Dan hanya dia yang aku cintai Ken.” Ayumi menghilang setelah pintu berayun menutup.

Aku tidak akan mengejarnya. Aku tidak perlu mengejarnya, suatu hari nanti –entah kapan- dia akan datang membuka pintu yang sama. Aku hanya berharap hari itu Ayumi masih datang dengan tubuh yang utuh.

 -o-

             Shubuh hampir tiba saat Ayumi mengetuk pintu. Kelopak mata kanannya bengkak, membuat wajahnya tak beraturan seperti monster. Ada sebuah sayatan memanjang di tangan kanannya, darah menetes-netes dari luka itu membasahi lantai putih apartemenku. Sementara tangan kirinya memegangi perut yang sepertinya juga terluka.

            “Ken…tolong suamiku Ken.”
            “Apa?”
            “Dia…dia mencoba menyakiti dirinya sendiri Ken..” nafasnya tersengal, “dia butuh pertolongan, dia…”

            “Kamu tidak berpikir kamu sendiri perlu pertolongan Ay? Kenapa datang padaku? Kamu harusnya ke rumah sakit.” Tanyaku geram, tapi Ayumi hanya terpejam. Detik berikutnya aku memeluk tubuhnya sebelum roboh ke lantai. Lelaki keparat itu harus membayar perbuatannya pada Ayumi.

            Aku menggila mengantarkan Ayumi ke rumah sakit. Rupanya perut Ayumi ditikam berkali-kali. Sebuah obeng kecil masih tertinggal menancap di sana, begitu penjelasan si dokter berkacamata itu di ruang UGD. Menatapku curiga seolah aku yang melakukannya. Blah!

            Tapi tak apa, lihat saja nanti, akan aku balas lelaki keparat itu dengan tanganku sendiri. Yang penting sekarang Ayumi harus sembuh dulu.

 -o-

            “Ken…”

“Hmmm…”
”Antar aku pulang.”

            “Tidak, kamu tidak akan kemana-mana Ay.”

“Tapi Ken…”
“Tidak ada tapi-tapian Ay! Dengar, aku tidak akan membiarkanmu melakukannya. Tidak akan lagi. Mengerti?”

“Kapan aku pulang dari rumah sakit Ken?”
“Itu tidak penting Ay.”

“Berapa lama lagi aku harus tinggal di apartemenmu ini?”
“Kamu akan selamanya tinggal di sini.”

“Lihat Ken, luka-lukaku sudah sembuh. Jahitan di perutku sudah mengering, lihat ini…” Ay membuka gaunnya memperlihatkan perutnya yang masih dihiasi perban menutupi jahitan demi jahitan di baliknya. “Aku sudah bisa pulang kan?”

“Aku tidak peduli. Kamu tetap di sini bersamaku.”
“Tapi Ken, dia adalah suamiku. Seorang istri harus selalu kembali pada suaminya.”

            “Bulshit! Kamu tidak akan pernah kembali pada lelaki keparat itu Ay. Titik!”

            “Kamu mulai terdengar sepertinya Ken.” ucap Ay tersenyum.

“Apa??” teriakku seraya cepat berdiri, menjatuhkan kursi yang tadinya aku duduki, denting besi menyentuh keramik untuk sesaat masih bergema di kamar. Mukaku sudah semerah kepiting rebus saat kurasakan dadaku seolah akan meledak, “Aku bukan lelaki bejat sepertinya Ay.” ucapku dengan tangan terkepal.

“Aku tahu Ken, aku tahu.” Ayumi menatapku dengan penuh cinta, lantas membelai tanganku lembut. “Sepertinya aku mulai mencintaimu Ken, seperti aku mencintainya.”

Dan entah sejak kapan tangan-tanganku berada di sekitar leher Ayumi. Jemarinya erat mencengkeram tanganku. Aku melihatnya tersengal dan tersenyum.

“Aku…mencintaimu…. Ken…” ujarnya terbata-bata sebelum terkulai.

— ### —

 

Ya …
Ini fiksi …

KARYA SIAPAKAH INI ???

.

 STOP PRESS, 18 Januari 2013

557537_3580182867663_789812341_a
KARSINI #6, Tulisan fiksi ini adalah Karya dari Rinrin Indriyanie
The Smilling Face … ORIN.
Hobbynya ngebut naik motor (hehehehe)
Orin memang sering menulis fiksi
Dan seperti yang dituliskan oleh salah satu komentator, 
letak kekuatan fiksi Orin ada pada dialog para pemerannya
Orin punya blog yang bertajuk : RINDRIANIE’S BLOG

social network

Wong Cilik

Kalau fiksi ingatnya sama mbak Choco, Kakaakin dan teh Orin. Tapi rasanya bukan tulisan mbak Choco, karena kurang mbanyol, kalau Kakaakin, genrenya beda. Tinggal teh Orin deh, biasanya kisahnya yg aneh-aneh, seperti tulisan di atas … 😀
Wong Cilik recently posted..Tiru meniruMy Profile

Wong Cilik

ha.ha.ha ya itu, sudah berdarah-darah masih tetap saja bertahan karena cintah …
satu lagi yg bikin tambah curiga, kekuatan cerita ini di dialog, nah kekuatan teh Orin kan disitu 😀
Wong Cilik recently posted..MbludusMy Profile

Titik

Wow!! Speechless sama fiksi ini. Keren banget.
Oia, aku suka bagian ini: “Dia yang memintaku jadi istrinya Ken, bukan kamu…”. Hahaha……berani mencintai tapi gak berani menikahi, ketinggalan kereta deh… Xixixi…..

Teh Orin, Om. 🙂
Titik recently posted..Intermezzo IIMy Profile

vizon

Wuih.. fiksinya keren sangat ini..
Saya tadinya mau nebak Orin..
Tapi, setelah dipikir-pikir, sepertinya ini tulisannya Uni Evi.. 🙂
vizon recently posted..manyiriahMy Profile

Necky

saat pertama baca…top of mind adalah Choco vanilla kalau bukan yah…nasib….namanya juga nebak…. salah ga apa2 khan??? hehehehe
Necky recently posted..New BikerMy Profile

LJ

mungkin ini tulisannya Kang Yayat.. #siapa tau beliau beralih minat dr fotografi ke fiksi. #tidak ada yang tak mungkin.

nama2 spt bude Choco, Orin, Akin.. itu sudah terlalu biasa di dunia fiksi, mari kita coba nama lain.
LJ recently posted..Baralek ka MagekMy Profile

Ngai

aquwh mah cuman bisa bikin fiksi seputaran nanang, tanti dan orin.. belum pernah fiksi keren model ayumi beginiiii…

etapi semoga tiba2 aquwh bisa juga bikin fiksi keren, sdh didukung sama ibu peri dan ateu orin begini.. 😛
Ngai recently posted..Baralek ka MagekMy Profile

Orin

Hihihi..
Terima kasih banyak ya Om fiksi Orin yang geje ini sudah ikutan mejeng di blog Om. Orin pikir ga lulus sensor, coz kan sadis bgt *nyengir*.
Orin recently posted..Rikmo SadhepoMy Profile

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge