TAKE IT OR LEAVE IT

.
Tentu para sahabat sekalian sering sekali berinteraksi dengan para pedagang. Entah pedagang sayur ataupun pedagang gadget. Proses tawar menawar adalah hal yang lumrah untuk dilakukan … Namanya juga berniaga bukan ?

Namun demikian ada hal kecil yang menurut saya seharusnya tidak dilakukan … atau dikatakan …

Pernahkah anda mendengar orang nawar dengan kata-kata seperti ini …

Aaaahhhhh Bang … mosok cuma begini aja harganya Lima Belas Ribu ???.  Si Abang bohong nih … mau untung banyak ya Bang …”

atau …

Bahannya kan kasar dan jelek begini … masak harganya sepuluh ribu perak ??? Yang bener aja Bang ?

atau …

Masak begini aja harganya 30 ribu … di tokonya Umi Fulan harganya nggak segitu deh.  Abang nggak jujur niiihhh …

 

dan sebagainya … dan sebagainya …

.

Ada banyak contoh-contoh lain … Yang intinya … kita menawar … tetapi disertai dengan kata-kata yang tidak sepantasnya … menuduh … mengecam … mengata-ngatai … komentar menghina … dan sebagainya …

Saya setuju … bahwa di beberapa situasi … Tawar Menawar adalah sangat Lumrah … berdiskusi untuk mendapatkan harga yang pantas dan disepakati oleh kedua belah pihak.  Ini lah hakikat orang berniaga … Pembeli puas … Pedagang masih tetap Untung.  Tapi ya itu tadi … ketika tawar menawar kadang kala tidak sadar ada keluar kata-kata kita yang menyinggung sang pedagang …

Saya rasa kita juga harus memilih kalimat yang baik dalam hal tawar menawar …

Kalau toh nanti misalnya harganya tidak cocok … ya tinggal saja … tidak usah pakai acara “mengata-ngatai” si Abang dengan kalimat yang tidak pada tempatnya.

So … Tawarlah … then … Take It … Or Leave It … !!!

Cocok … Bayar !!!
Nggak cocok … Tinggal !!!

 

Salam saya

om trainer1

.

.

Note :

Contoh yang saya sampaikan mungkin kurang telak atau kurang pas
Mungkin ada pembaca yang bisa menolong saya untuk memberikan contoh kalimat tawar menawar yang menyinggung ?

.

.

 

social network

Orin

heuheu…iya Om, sepakat bgt, take it or leave it ajalah, drpd riweuh.
Saya termasuk yg ga bisa nawar, makanya suka waswas ‘tertipu’ harga kalo belanja bukan di mall..
Orin recently posted..Aku InginMy Profile

LJ

pengalamanku klo di pasar aur,
jika pedagangnya masih muda mereka suka dgn konsep take it or leave it..
kasih harga standar pasar.. cepat dan praktis.

tapi jika pedagangnya emak2 yang dr kampung.. (biasanya bawa pisang..)
bagi mereka proses menawar itu penting agar tau brp kemampuan kita untuk membeli pisangnya.
mereka akan membujuk kita dgn kalimat “agolah, nak.. indak ba’a..” (tawarlah nak, gpp..)
akan tjd percakapan panjang, ttg kualitas pisang yg beliau bawa..
jika sudah deal, selesai akad jual beli.. beliau akan bilang: barakaik yo nak.. (berkah ya nak..)

pada intinya.. di pasar atau dimanapun.. saling menjaga kesantunan ya om..
LJ recently posted..Rendang LJ Sabana LamakMy Profile

susindra

3 contoh di atas sudah sangat cocok dan menyinggung, pak.

Memang benar, ketika menawar seharusnya tetap sopan meski kebangetan mahalnya. terutama di pasar tradisional. Sudah rahasia umum, minimal 50% mark up. Saya pribadi, meski dibebaskan menawar, tetap sungguh terlalu.mungkin juga karena saya malas dan tak pandai menawar?
Satu yg saya berusaha ingat ketika berbelanja di pasar tradisional (meski aneh menurut saya), banyak pedagang yang tersinggung jika kita pergi tanpa menawar. Lebih aneh lagi, ada yang sok tersinggung ketika ditawar separuhnya. Terutama jika si pedagang menyimpukan penawar sebagai less expert buyer. nah looo….
#pengalaman pribadi
susindra recently posted..Keinginan HatiMy Profile

keke naima

sy termasuk yg gak bs nawar, Om. Makanya lebih suka harga pas. Tp belanja di tmp yg bs tawar menawar biasanya cukup dlm hati aja. Kl mnrt sy harganya pas langsung ambil. Kl kemahalan langsung tinggal aja atau kadang coba nawar dikit, siapa tau sy yg pinter nawar ini bs dpt harga sesuai hehehe. Tp jgn sp kita ngata2in penjualnya lah. Takut yg jualnya jd gak ikhlas kasihnya 😀
keke naima recently posted..Nai Kalo Lagi Manja ke KekeMy Profile

marsudiyanto

Kalau saya kebalikannya Om.
Yang paling sering saya isengin adalah bakul jajanan langganan.
Saya sering pura2 nanya, ini lemper berapa Mbak.
Dia jawab ” seribu lima ratus Pak”
Nah saya nimpali dengan bilang : “Masak dari kemarin2 seribu limaratus terus. Sekali-kali seribu enam ratus atau dua ribu kek”

marsudiyanto

Ulah saya itu saya saya lakukan trutama kalau pas barengan tetangga saya yang selalu nawar. Padahal yg namanya jajanan dan gorengan kan harganya ya segitu2 ajah…
Saya sengaja bicara keras2 biar dia ngerasa.
marsudiyanto recently posted..Lebih Mengenal SusuMy Profile

Necky

hahaha…pak mars nyindirnya mantap juga.
Kalau udh urusan tawar menawar aias negosiasi…saya selalu cari yg praktis…survey harga dulu berpa the best price (bisa lewat google atau teman2) lantas baru deh berburu gadgetnya. Kalau sudah masuk range harga beli, biasanya nawar ala kadarnya….dikasih syukur ga dikasih ya tetap beli. Masalahnya malas muter2nya….hehehehe.
Necky recently posted..Tarif AngkotMy Profile

vizon

Tidak hanya dalam perdagangan reguler kalimat-kalimat semacam itu dikeluarkan oleh pembeli, Om.. Dalam jual-beli online juga begitu.. Saya sering dapat pesan semacam ini, “..di website bla bla bla harganya kok lebih murah..?”

Kalau sudah dapat pesan semacam ini, saya tidak lagi merespom entah itu email, bbm, chatting ataupun sms dari calon pembeli. Saya cuekin saja dia lagi. Cape mengahadapi orang seperti itu, karena biasanya dia cuma mau cari perbandingan harga dan jarang yg jadi membeli..

Tapi, di sisi lain, pedagang juga kerap saya temukan menggunakan kalimat yg gak perlu untuk disampaikan ketika proses tawar menawar tersebut, Om.. Kira-kira begini: “…modalnya aja belum nyampek…” Menurut saya, kalimat ini juga tidak baik. Mestinya pedagang cukup menyebutkan berapa harga yg wajar untuk produknya, sehingga calon pembeli pun tidak perlu adu otot urat leher untuk akhirnya mau membeli..
vizon recently posted..[belajar motret] : freshMy Profile

Yeye

Sepakat bgt, kue2 ku kdg sk dikomen gini “mahal amat mba, di cakery sana lbh murah”.. ugh dlm hati berkata “lhaaaa napa ga beli disana aja yah” hahahhaa
kdg keki bgt tp namanya pedagang yah Om, tahan2 aja deh 😀
Yeye recently posted..Garage SaleMy Profile

kamal

kalau menurut bahasa gaul sekarang, nawar yang sadis disebut ‘afgan’. nah biasanya si pedagang, biasanya di dunia online akan mengatakan ‘no afgan’. artinya jangan sadis menawarnya. sadis adalah lagu yang dibawakan oleh penyanyi afgan, istilah ini diambil dari situ.

gambaran dari tulisan di atas adalah menawar dengan ‘afgan’ 🙂

o ya, salam kenal.
kamal recently posted..Jeruk yang Benar-benar ‘huasyem’My Profile

Esti Sulistyawan

Saya sebenarnya ahli dalam menawar, cuma kurang suka berlama-lama di pasar tradisional yang sumpek dan panas. Jadi klo merasa udah ditawar sekali, dua kali masih belum deal, ya saya tinggal. Malas ngelanjutin.
Klo sekarang udah punya langganan di pasar tradisional. Gak perlu nawar lagi.

yuniarinukti

Saya masih sering Om mendengar tawar menawar seperti ini. Tak jarang pembeli itu membeda-bedakan harga di toko A dan di toko B. Dan sebagai penjual, saya biasanya memberi pengertian kepada mereka dari sisi pelayanannya atau garansinya (misalnya barang komputer). Walaupun dalam hati saya sebenarnya sebel tapi saya berusaha meyakinkan pembeli. Biasanya kalau penjelasan saya bisa diterima, selisih harga berapapun pasti dibeli 😀
Kalau saya pribadi, seperti yang Om bilang, mau bayar, gak mau tinggalin 🙂

nh18

Memang harus ditawar Pu …
cuma masalahnya adalah … ketika menawar seharusnya tidak mengeluarkan kata-kata yang tidak semestinya

Shohibul Kontes 63

Saya sependapat dengan saran Om
Jangan mencela, kalau kurang pas di hati dan pas di dompet sebaiknya tidak membelinya.
Dulu ada yang melihat-melihat mobil saya lalu ngomong gini-gitu yang intinya menjelek-jelekkan mobil saya.
Saya suka cara dia karena berkesempatan smash dia (nggak baik lho, jangan ditiru)
“Pak, kalau uangnya belum cukup sebaiknya beli mobil lain yang tahunnya lebih tua dan tampak antik deh”
Calon pembeli yang berlagak teroris itu langsung mundur tak teratur.

Salam hangat dari Surabaya
Shohibul Kontes 63 recently posted..Ramadhan Tinggal Sebentar LagiMy Profile

ded

Saya suka beli buah2an yg dipikul, apalagi klo sdg di puncak bogor. Terakhir kemarin (4/8) saya beli 2 sisir pisang lumbut, harganya 12rb.
Nah kan bingung om, masak mau ditawar lagi ?
He3 Bayar aja, abangnya jg senang

chocoVanilla

Untuk barang-barang tertentu saya jarang nawar, Om, terutama kalo penjualnya memelas :mrgreen:
Tapi saya pernah nawar becak gini:

“Lima belas ribu aja, Bu.”
“Lho, kan deket, Bang? Sepuluh ribu aja ya?”
“Lima belas Bu, jalannya naik turun.”
“Ah Abang, sepuluh ajaa. Kan kita sama-sama naik.”

Akibatnya saya malah disuruh gantian nggenjot 😆
chocoVanilla recently posted..PeraduanMy Profile

bunda lily

kalau aku malah jarang nawar atau malah gak pernah, Mas eNHa,
bukan apa2, tapi lebih pada karena aku gak jago dalam tawar menawar 😛

apalagi kalau sama tukang sayur langganan yg lewat di depan rumah, gak tegaan gitu ……hehehe………

dan, saya sangat setuju sekali dgn Mas eNHa, kalau memang kurang pas, baik di hati ataupun di dompet…….ya sudah, khan gak perlu menjelek2an barang dagangannya….

salam
bunda lily recently posted..What a Price…!!!My Profile

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge