ASAP TUNGKU

 

Asap dari tungku.  Ada suatu masa dimana saya akrab sekali dengan aroma asap dari tungku ini.  Aroma asap dari tungku yang menggunakan kayu bakar tersebut akan senantiasa menarik ingatan saya ke suatu masa di tahun 1986.  Saat dimana saya menjalani Kuliah Kerja Nyata. KKN.

Sebagai mahasiswa tingkat akhir di sebuah Institut Pertanian di Bogor, kami diwajibkan untuk melakukan dharma ketiga perguruan tinggi, yaitu pengabdian pada masyarakat melalui aktifitas Kuliah Kerja Nyata.  Kegiatan tersebut dilakukan selama tiga bulan.  Kami semua akan tinggal di pedesaan.  “Home stay” di rumah penduduk desa.

Satu desa akan mendapatkan 4 orang mahasiswa/i.  Waktu itu saya dan tiga orang teman saya mendapat penempatan di sebuah desa terpencil.  Sebuah desa yang bernama PANYUTRAN.  Terletak di Kecamatan Padaherang, Kabupaten Ciamis.  Untuk mencapai lokasi ini kami harus naik ojek trail menanjak ke puncak gunung,  selama kurang lebih dua jam.  Ojek bebek biasa tidak akan bisa menaklukan medan ini, karena sangat terjal.  Sehingga harus dengan ojek trail.  Belum lagi kalau musim hujan … jalan akses menuju desa ini sudah seperti sungai yang hampir kering saja … berbatu … bergelombang … sangat tidak rata.  (Note : Ojek Trail hanya melayani rute pulang pergi dari Desa Panyutran ke pusat kota kecamatan Padaherang saja.  vise versa)

Penduduk di desa Panyutran, dulu masih relatif terbelakang.  Program Pembangunan hanya “nyolek” sekenanya.  TV hanya ada satu.  Itu pun Hitam Putih.  Yang punya TV hanya pak Kuwu saja (kuwu = kepala desa).  Dinyalakan dengan menggunakan tenaga aki.  Listrik belum masuk desa ini.  Kalau malam gelap “guntila”.  Jarak antara satu (kelompok) rumah dengan (kelompok) rumah yang lain relatif berjauhan.  Tersebar.   Sehingga jika kami ingin melakukan penyuluhan kepada masyarakat, kami harus berjalan kaki dari rumah ke rumah.  Hanya itu “kendaraan” yang ada.  Kaki kami masing-masing.  Kami berjalan kaki naik turun lembah … dari satu dusun ke dusun yang lain.  Dan ini sangat melelahkan sodara-sodara.

 

kkn
situasi medan yang dihadapi dulu

 

Masyarakat di desa ini kalau memasak selalu menggunakan tungku kayu bakar.  Ini aroma asapnya khas sekali.  Sehingga setiap kali kami berjalan naik turun gunung tersebut … jika kami sudah mulai mencium bau-bau aroma asap tungku tersebut … Aahhhaaaaa !!! … Hati kami sontak langsung berbunga-bunga.  Semangat.  Ini artinya … di depan akan ada rumah nih.  Sebentar lagi kami akan sampai ke sekelompok rumah.  Sebentar lagi kami bisa istirahat.  Duduk-duduk sebentar lalu dilanjutkan dengan memberikan penyuluhan. 

Masyarakat Desa Panyutran ini jika kami datang ke rumah mereka.  Mereka akan bangga, merasa dihormati.   “Aya pak KKN dongkap ka imah abdi” katanya.  (“Ada pak KKN datang ke rumah saya”).  Mereka selalu ingin menyajikan makanan dan minuman yang terbaik yang ada pada mereka.  Mengharukan sekali ketulusan mereka ini.   Aroma asap tungku ini beberapa saat kemudian pasti akan bercampur dengan aroma harum pisang goreng.  Wangi ayam goreng  Nasi yang mengepul.  Terasi yang di sangrai … Air panas yang disedu … kopi yang terhidang dan sebagainya.  Ini semua sanggup menghilangkan capek dan penat kami.  Dan ini nikmatnya luar biasa sodara-sodara

.

So …

Setiap kali saya mencium aroma asap tungku kayu bakar … maka ingatan saya akan langsung melayang ke saat-saat saya KKN tahun 1986.  Aroma asap tungku ini berarti … berita bagus … berita membahagiakan ... langkah harus dipercepat … karena sebentar lagi kami akan bertemu sekelompok rumah di suatu dusun … inilah saat dimana kami bisa beristirahat sejenak … mencicipi jamuan, serta merasakan keramahan dan kebaikan penduduk desa Panyutran yang sederhana tapi luar biasa ini …

Saya rindu aroma ini …
Saya sudah jarang mencium aroma asap tungku ini …
Kini aromanya sudah berganti menjadi aroma minyak tanah …
atau bahkan …

aroma gas 3 kilo …

(kalau ini justru berita buruk !!!)(karena suka menghilang)(hahaha)

Salam saya

.om trainer1

.

.

—-

“Tulisan ini diikutsertakan pada Giveaway Cerita di Balik Aroma yang diadakan oleh Kakaakin”

,

Incoming search terms:

  • kuwu panyutran

social network

54 thoughts on “ASAP TUNGKU

    1. Iya Hind …
      ngangeni …

      pengen nengok kesana lagi … sudah seperti apa kondisinya sekarang
      saya harap sih sekarang sudah jauh lebih maju

      salam saya Hind

  1. Dah lama gak mampir ke blog ini. Maapkan ya, Oom ^_^
    Jadi keingetan dua kali KKN dulu, yang pertama KKN di Desa Wonoharjo Pangandaran selama 3 bulan. Sempat terjebak cinlok hehehe dan kedua bernama program Farmasi Pedesaan di Desa Palilinggihan Jatiluhur. Aroma kesederhanaan tanpa listrik kecuali dari kincir air yang cukup menerangi lampu 5 watt, juga aroma kekeluargaan. Pokoknya meninggalkan kenangan LUAR BIASA! ^_^
    Bang Aswi recently posted..Merangkul Solo via ABFI 2013My Profile

    1. CinLok …
      Aaahhhaaaa … !
      Tapi emang bener sih … temen temen saya juga banyak yang jadian waktu KKN
      hehehe

      Salam saya Bang Aswi

  2. Aroma tungku ada berasa asep2 gitu ya om. Saya kalau plg ke kampung suami suka minta eyang masak memakai tungku. Sebab walau msh ada tungku, tp skrg sehari2 eyang sdh menggunakan kompor. Memang beda om hasil masakan pakai tunggu dan kompor.
    Semoga sukses dgn GA ini.

    1. Iya …
      Tapi aromanya berbeda dengan asap untuk pembakaran limbah …
      asap dari tungku itu … begitu menggetarkan … hehehe

      Mengenai rasa ?
      Ya … mungkin ini dipengaruhi pula oleh aroma kayu bakar ya Bu …

      Salam saya Bu Niken

    1. Hahaha …
      sedakep sudah ada dooonngg …
      tapi entah mengapa kok waktu itu jarang dipakai … :)

      Salam saya Mechta

    1. Wah … di sekitar rumah pak Eja masih ada ?
      ah aromanya pasti mengundang sekali ya Pak

      Salam saya

  3. Aya pak KKN anu begang kasep tea, dongkap ka imah abdi.. :P

    aroma tungku memang membangkitkan kenangan indah, om..
    ada kebersamaan dalam tungku yang menyala,
    apalagi jika udara dingin sambil bakar ubi..
    LJ recently posted..Sumbangan nan SumbangMy Profile

    1. Yang jelas …
      ketika KKN …
      Berat badan saya naik lima kilo … dalam waktu tiga bulan saja …

      Makan melulu

      hahaha

      Salam saya Bundo Dentist

  4. Ya..pada tahun itu, barangkali sampai sekarang memasak dengan dapur tunggu (pawon-bahasa Jawa) masih dijumpai di pelosok pedesaan ya om.
    Ketika masih kecil emak juga memasak pakai tungku. Demikian pula jika punya hajatan (mantu Enny dan Sandy), emak membuat lagi tungku besar di belakang rumah khusus untuk memasak nasi. Maklum kompor pasti tidak mampu melayani jika nasi yang dimasak dalam jumlah besar. Yu TUN, adalah juru masak langganan emak hingga sekarang.
    Foto waktu mahasiswa kece juga ya om
    Semoga berjaya dalam GA Akin
    Salam hangat dari Surabaya
    Pakde Cholik recently posted..Cara Berkomunikasi Author Dengan EditorMy Profile

    1. Benar Pak De
      Ketika hajatan … dan juga perayaan hari-hari besar … tradisi memasak dengan menggunakan kuali besar dan kayu bakar biasanya masih sering dilakukan … supaya bisa masak banyak …

      Mengenai foto ? Kece ?
      memang banyak yang berkata demikian pak De …

      hahaha

      salam saya

    1. Ah benar Kak …
      Kalau di Sumatera … kadang sekali dua saya masih menemukan keluarga yang baralek/hajatan dan masak-masak dengan menggunakan tungku dan kayu bakar …

      Salam saya Kak

    1. Jujur Tik …
      Postingan ini juga terinspirasi dari Postingan yang kamu ikutkan di GA bu Evi …
      disana kamu cerita mengenai rumah …
      dan di pintu masuk ada tumpukan sabut kelapa/blarak dan juga kayu bakar …
      (plus tumpukan “klari” .. daun kelapa kering … ini untuk obor kalau mau jalan malam hari …)

      Ini persiiiissssss banget sama kondisi desa KKN ku dulu …

      Salam saya Tik

  5. Sebagai anak kampung tentunya pernah merasakan masa2 memasak pakai tungku dan kayu bakar Om, bahkan akhir2 ini aku dan Bapak suka bernostalgia jd setiap aku libur kita masak rame2 tp menggunakan tungku yg sengaja dibeli Bapak dipasar tradisional, akhir2 ini mulai banyak lg masyarakat pedesaan disini yg menggunakan tungku dan kayu bakar utk memasak krn minyak tanah yg makin mahal dan langka sementara utk membeli gas elpiji masih ada juga yg blm mampu :(
    Sukses ga-nya ya Om, btw fotonya waktu masih muda unyu deh hihihi :D
    saidah recently posted..Tingkah Polah MecaMy Profile

  6. Iya Om aroma tungku memang khas yaa..
    Aku inget kalo di rumah Mbahku Di Boyolali..
    Di jaman modern sekarang pun, udah di beliin kompor minyak, kompor gas,
    tetep masih cinta sama tungkunya di dapuur yang segede gaban gitu, hmm
    Dan akau paling seneng nongkrongin di depannya meski mata perih :D
    #jadi kangen mudik

    Ntar2 ..itu poto masih jejaka kah Om?

    1. Hahaha …
      dan lagi … banyak orang bilang …
      kalau nasi ditanak dengan tungku kayu bakar … lebih harum katanya

      salam saya Nchie

    1. Ya …
      itu juga salah satu sebab kenapa Tungku sudah mulai jarang …
      susah kayu bakarnya …
      ada juga yang pakai sabut kelapa … tapi ini terkendala pohon dibeberapa daerah yang tidak ada pohon kelapanya

      salam saya Bu Fitri

    1. Anglo ?
      ya saya rasa dibeberapa daerah di Jawa masih banyak yang menggunakan ini

      salam saya Bunda Samara

    1. Aroma Tungku iya Chi … udah nggak pernah mencium lagi
      tapi kalo aroma tanah … sekali-sekali saya masih bisa menghirupnya
      (abis panas … terus terguyur hujan)

      salam saya Chi

  7. Kalau memasak dengan tungku…baunya masih dinikmati. Tapi kalau kena asapnya, saya paling gak kuat hehehe. Dulu KKN saya di satu desa di Kulonprogo. Untungnya sdh ada listrik, WC, cuma saat menuju lokasi, jalannya berbatu dan berlumpur…kalau hujan, motor bisa ngepot (tergelincir) hehehe. Ah…jadi inget masa KKN dulu, banyak kenangan :-)

    1. Motor tergelincir ?
      wah senasib kita Bu … kami dulu juga sering kena tuh … kalo lagi menuju kota kecamatan … dan hari hujan … pasti deh tergelincir

      Salam saya BunDit

  8. jadi teringat sama nenek yg dulu masak pake kayu…

    terima kasih kisah kenangan yg penuh semangat ini Om, terbayang bagaimana capeknya untuk mendatangi rumah warga, tapi kecapaian hilang atau tergantikan dengan rasa puas ketika sedang berhadap dengan warga.

  9. ..
    pasti sudah banyak yang bilang foto si Om waktu muda imut.. hihii…
    ..
    yang pasti kalau masak pakai tungku rasanya lebih mantab, kalau menanak nasi juga bisa lebih pulen karena panasnya merata..
    Alhamdulillah saya dulu masih sempat merasakan masakan dari tungku/ luweng (bhs Jawa) dan ngerasain punya TV hitam putih yang di strum aki.. hehe..

    makasih sudah membangkitkan kenangan lama Om..

    salam hangat..
    -AtA-
    ..
    Ata recently posted..Kunang-Kunang guest houseMy Profile

  10. waaah hanya membayangkannya saja menyenangkan rasanya bisa mengalami masa2 seperti itu ya om,,walau memang butuh perjuangan bercape-cape ria homestay disana :)
    salam kenal yah om :)

  11. sudah sangat jarang ditemui ya,jika dijakarta malah sudah tidak ada sama sekali
    berganti gas, minyak tanahpun jarang om..

    masakan yang pake tungku itu sedap yah om, ada khasnya gitulah…
    wi3nd recently posted..~puLas.. ~My Profile

  12. Wah, Om Nh kreen abis, begitu saja sudah naik 5 kg selama KKN, gimana sebelumnya ya ?
    Pasti lebih langsing lagi, memang gaya 80an, kayak begitu kan Om? :)

  13. Paling suka bau asap dari tungku..untung aku tinggal di desa Om, jadi masih bisa menikmatinya..

    Sukaaa sama potonya Om…unyu – unyuuuuu !! :)

  14. Di tempat saya [Banywuangi] tungku masih menjadi tradisi, malah jarang yang menggunakan Gas Elpiji, Om. Apalgi belakang rumah ada tunggku khusus untuk membuat gula kelapa :)

    Matur nuwun partisipasinya, Om, sudah tercatat sebagai peserta :)

  15. Hahaha…

    Wah Om, waktu kuliah cungkring banget yaaaa ternyata.
    Jadi ingat jaman kuliah juga masih cungkring hehee … dan memang sih, kangen dengan suasana KKN, meskipun KKN nya di kota juga :p

  16. aroma asap tungku bisa mengingatkan masa2 perjuangan saat kuliah dulu yah Om… Ah sy jd ingat, jamannya sy msh kuliah pun saat baksos ke daerah sukabumi msh disajikan masakan yg dimasak dgn tungku Om… Wah memang luar biasa ramahnya orang desa itu ya Om… Kami menginap di rumah mereka, dijamu dll…

    Ohya Om waktu ke Jogja tempo hari dirumah si mbak msh ada tungku juga Om… Kami disajikan bubur pati dan memang rasanya beda deh dgn yg dimasak di kompor :-)
    Lyliana Thia recently posted..Kumpul Keluarga @ Water Kingdom MekarsariMy Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge