ONLINE SHOP

Toko dalam jaringan.

Saya yakin ada banyak sekali pembaca yang sudah melakukan transaksi jual beli melalui online shop.  Mereka (dan juga mungkin anda) sudah melakukannya sejak lama sekali, sudah bukan merupakan hal yang istimewa lagi.  Ini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.  (Malah mungkin beberapa dari anda justru sekarang mencari nafkah dengan cara mengelola online shop)

Terus terang, saya baru akhir-akhir ini saja melakukannya.  Saya itu orang yang sangat konservatif.  Selalu ragu untuk mencoba sesuatu yang baru.  Termasuk membeli sesuatu melalui toko dalam jaringan.

Mengapa saya ragu?

Ada beberapa alasan sebetulnya.  Namun yang utama adalah masalah keamanan dan “trust”- kepercayaan.  Nanti uang saya dibawa lari?  Apakah akun ini bisa dipercaya? Aduh nanti saya ditipu? Nomer rekening saya aman nggak ya? Dan seribu satu kekhawatiran lainnya.

Sampai suatu hari saya membaca di sebuah portal toko online yang menawarkan fasilitas bayar di tempat, cash on delivery(COD).  Kita baru akan membayar saat barang sudah di terima.  Sayapun tergoda untuk mencoba fasilitas ini.  Akhirnya saya memberanikan diri untuk membeli barang pertama saya di online shop.  Saya masih ingat sekali, yang saya beli waktu itu adalah jam digital seharga Rp.175.000 saja.  Empat hari setelah saya memesan, barang itu, datang diantar oleh kurir.  Saya pun tinggal membayar kepada kurir tersebut.  Case closed.  Simple.  Aman.  Saya senang.

Dan mulai saat itu saya ketagihan! (hahaha)

Saya mulai sering membeli barang lewat online.  Sebut saja tripod, action camera, jam tangan, cover kamera, mp3 player dan juga yang terakhir tas selempang.

Bukan itu saja, kalau dulunya saya hanya mau membeli barang yang ada fasilitas “bayar di tempatnya” saja, sekarang (celakanya) saya mulai berani untuk transfer uang dulu baru terima barang.  Hahaha

Online shop telah membiusku.  (Bencih akuh)

(kekepin dompet kenceng-kenceng)(umpetin kartu ATM)

Salam saya

.

.

.

.

Posted in Artikel | Tagged , , , | 4 Comments

PACKAGING

Packaging.  Kemasan.  Pembungkus.  Packaging intinya adalah wadah untuk menempatkan atau membungkus suatu produk.

Ada beberapa fungsi dasar packaging.

Fungsi packaging yang paling utama tentunya adalah untuk melindungi produk agar kualitasnya tidak berkurang, jika nanti sampai di tangan konsumen.  Packaging melindungi produk saat transportasi, pengiriman, penyimpanan di gudang maupun saat didisplay di rak pajangan para penjual

Packaging juga berfungsi untuk identifikasi dan tempat mencantumkan informasi bagi merek produk yang bersangkutan.  Di atas kemasan tersebut para pabrikan bisa mendesign logo, branding, nama merek dan sebagainya.  Bukan itu saja, mereka juga bisa mencantumkan informasi-informasi lain yang berkaitan dengan produk tersebut.  Ingredient, content, kandungan gizi, komposisi bahan, sertifikasi halal, kode kedaluarsa, kontak layanan konsumen dan sebagainya.

Untuk beberapa produk, packaging juga memudahkan konsumennya untuk membeli dengan ukuran /jumlah yang sesuai dengan apa yang diinginkan/dibutuhkan.  Kemasan satu kilo, satu liter, 20 pieces, satu galon, 225 ml, se lusin dan sebagainya.

Dalam perkembangannya, ternyata packaging tidak hanya berfungsi untuk melindungi, identifikasi, informasi dan menunjukkan satuan penjualan.  Packaging telah berkembang fungsinya ke hal-hal yang lain.

Salah satu inovasi sederhana yang saya pujikan adalah design packaging sebuah produk kudapan kripik kentang multi nasional.  Dengan cerdiknya tim brand/product management perusahaan tersebut mendesign packaging productnya sedemikian rupa, sehingga kemasan tersebut bisa dijadikan properti untuk selfie.  Caranya hanya dengan menambahkan gambar mulut tersenyum saja!

kemasan diperankan oleh model (source : clipart, mspowerpoint)

Saya sempat browsing sana-sini, ternyata kampanye marketing ini awalnya berasal dari Thailand.  Karena dinilai berhasil, lalu mereka menduplikasi inisiatif ini ke beberapa negara lainnya, termasuk Indonesia tentu.  Sebuah negeri yang penggemar selfienya relatif banyak!

SO …

SMILE!

Salam saya

.

.

.

.

Posted in Artikel | Tagged , | 10 Comments

CONSUMER ENGAGEMENT

Consumer engagement pengertian sederhananya adalah suatu (rangkaian) aktifitas yang dilakukan oleh produsen produk atau penyedia jasa untuk mendekatkan produk/jasanya pada konsumen.  “Bertunangan” dengan konsumen.  Membina kedekatan dengan konsumen.  Membangun “keterlibatan emosional” konsumen. 

Mungkin dulu orang lebih familier dengan istilah aktifitas iklan dan promosi.  Di zaman sekarang iklan dan promosi saja tidak cukup, harus disertai upaya untuk membina kedekatan yang lebih intim dengan konsumen.

Tanpa bermaksud untuk beriklan, kali ini saya ingin mengangkat salah satu upaya “consumer engagement” yang cerdas yang dilakukan oleh sebuah toko peralatan fotografi terkenal, dan bergengsi yang terletak di daerah Kemang, Jakarta Selatan.

(bukan konsumen sebenarnya)

.

Apa yang mereka lakukan?

Sederhana saja.  Mereka memfoto konsumen yang baru saja membeli peralatan fotografi di toko tersebut satu per satu dan mengunggahnya di social media Instagram.  Mereka mengunggah foto konsumen yang berpose sambil membawa produk yang dibelinya disertai ucapan : “Dear Mr. Nanang Hernanto thank you for shopping at ***KEMANG!”

Dan namanya juga toko peralatan fotografi, foto yang diunggah terlihat sangat tajam, kualitas gambarnya bagus dan tidak asal jepret.  Saya tidak tau apakah mereka memilih konsumen yang akan dipotret atau tidak, namun entah mengapa mereka yang difoto itu, baik tua atau muda, laki-laki atau perempuan, semuanya telihat keren, cantik, ganteng, charming.  Eiylekhan!

Ada pula beberapa foto yang hanya berupa gambar produk saja, tanpa ada wajah konsumennya.  Tetap disertai ucapan :”Dear Mrs. Nuning Hertanti thank you for shopping at ***KEMANG!” 

Menurut perkiraan saya, konsumen yang bersangkutan (i.e Mrs. Nuning) mungkin keberatan jika wajahnya difoto dan diunggah ke social media.  Toko ini tetap menjaga privasi dari masing-masing konsumennya.  Jika tidak berkenan ya tidak diambil gambarnya.  Hanya yang berkenan saja yang diunggah ke social media.  (Atau bisa juga orang yang datang itu merupakan suruhan dari konsumen aslinya)(bisa sopirnya? pegawainya? asistennya? dsb)

Inisiatif sederhana ini (menurut saya), akan mempunyai paling tidak, tiga manfaat.

Bagi konsumen, hal ini bisa menumbuhkan rasa bangga, mereka merasa dihargai.  Disebut namanya secara personal plus wajahnya bisa “nampang” di official social media toko yang terkenal tersebut.

Bagi pabrikan (produsen kamera, tripod, lensa, tas kamera dan sebagainya) ini tentu saja bisa menjadi ajang promosi gratis.  Pembaca pasti melihat, wah kamera merek anu tipe XYZ banyak yang beli ya, sepertinya bagus ini, wah tas kamera merek itu warnanya bagus ya dsb.dsb.dsb

Bagi toko yang bersangkutan tentu ini bisa menjadi sarana untuk lebih mendekatkan diri kepada konsumen setianya.  Harapannya tentu konsumen tersebut (contoh : Mr. Nanang dan Mrs. Nuning tadi) bisa datang kembali, untuk belanja peralatan yang lain.  Dan calon-calon konsumen yang lain pun tidak tertutup kemungkinan akan tertarik untuk berdatangan ke toko, gara-gara melihat foto yang diunggah di social media tersebut.  Entah karena memang tertarik dengan produknya atau mungkin ingin “exist” juga di official social media toko yang bergengsi itu.

Upaya sederhana inilah yang biasa disebut orang : “consumer engagement”.  Upaya mendekatkan diri kepada konsumen.  Membangun keterlibatan emosional antara produsen, produk dan konsumennya.

Anda mau nampang di official social media mereka?

Salam saya

(yang sedang ngekepin dompet, menahan hasrat diri yang membuncah inih)

(pengen banget ke sana!)

.

.

.

.

Posted in Training | Tagged , , , , | 2 Comments

IKATAN DINAS

Ikatan dinas menurut pengertian awam saya adalah suatu aturan di mana seseorang tidak diperkenankan untuk keluar dari organisasi/instansi/perusahaan selama kurun waktu atau masa yang telah ditentukan.  Jika yang bersangkutan keluar atau mengundurkan diri sebelum masa ikatan dinas tersebut berakhir, maka dia akan menerima konsekuensi.  Entah berupa denda, pinalti ataupun mengganti sejumlah dana tertentu.  Itu semua dituangkan ke dalam dokumen perjanjian yang disetujui oleh kedua belah pihak.

sign

(source : clipart, ms power point)

.

Pada umumnya aturan ikatan dinas diberlakukan jika seseorang menempuh pendidikan/pelatihan untuk pengembangan dirinya.  (atau sebut saja : si karyawan di-sekolah-kan lagi) Seluruh biaya akan ditanggung oleh instansi/organisasi/perusahaan yang mengirimnya.

Mengapa saya mengangkat topik ini ?

Banyak instansi/organisasi/perusahaan memberlakukan aturan ikatan dinas ini. untuk bentuk pelatihan dan pengembangan jenis apapun.  Dari mulai training yang berlangsung hanya setengah hari, sampai dengan pendidikan yang berlangsung selama kurun waktu dua, tiga atau empat tahun lebih.  (Entah itu untuk jenjang S1, S2 atau S3)

.

Apakah setiap aktifitas pengembangan karyawan (pendidikan dan pelatihan) perlu dibuat ikatan dinas ?

Menurut pendapat saya ikatan dinas selayaknya diberlakukan HANYA untuk jenis-jenis aktifitas pendidikan, pengembangan dan pelatihan tertentu saja.  Tidak semua aktifitas pengembangan perlu aturan ikatan dinas.

Aktifitas pengembangan yang layak di “ikatan dinas” kan menurut saya adalah:

.

1.Jenjang Pendidikan S1/S2/S3 atau pendidikan spesialisasi atau sertifikasi tertentu.

Jika sebuah instansi/organisasi/perusahaan “menyekolahkan” lagi karyawannya atas biaya dinas, saya rasa layaklah kiranya karyawan tersebut dikenakan aturan ikatan dinas.  Saya kurang begitu tau aturan jelasnya, namun biasanya mereka menerapkan rumus 2N+1 (N adalah masa pendidikan)(Ada yang tau perhitungan rumus lainnya ?)

.

2. Pelatihan yang bersifat rahasia/spesifik

Maksudnya adalah pelatihan yang berkaitan dengan pemberian materi tentang inovasi yang confidential.  Contohnya training tentang teknologi unggulan mesin baru, formulasi produk baru, bahan-bahan temuan baru, proses bisnis dan sebagainya.  Ini sangat perlu untuk di-ikatan dinaskan.

Mengapa demikian ? Ya tentu saja, karena ini berkaitan dengan rahasia perusahaan.  Jangan sampai nanti si A, yang baru beberapa waktu lalu dikirim untuk mempelajari teknologi pembuatan mesin otomotif merek A selama sebulan penuh di Jepang, besoknya dia resign dan pindah ke kompetitor, kan bisa runyam urusan.

.

3. Pelatihan dengan investasi yang mahal

Pendidikan dan pelatihan yang menyerap dana investasi yang “mahal”, juga layak untuk di ikatan dinaskan.  Jangan sampai perusahaan sudah mengeluarkan investasi untuk mengirim si B training ke Jerman.  Menanggung biaya fee training, transportasi pesawat, membayar penginapan dan menanggung biaya hidup sebesar total Rp. 150 juta … eeehhh dua minggu setelah training, si B hengkang ke perusahaan lain.  Saya rasa ini tidak etis dan memang harus ada aturan ikatan dinasnya.

NAMUN DEMIKIAN …

Seperti yang tadi saya katakan, ikatan dinas tidak sepatutnya diberlakukan untuk SETIAP aktifitas pendidikan-pengembangan atau training yang diikuti oleh karyawan.

Untuk jenis-jenis training yang umum, nilai investasinya wajar dan berlangsung hanya satu, dua atau tiga hari saja, rasanya kok terlalu berlebihan jika diberlakukan ikatan dinas.

Training yang umum itu seperti apa sih Om ?

Ya training-training umum semacam Supervisory Skill, Communication Skill, Public Speaking, Presentation Skill, Writting Skill, Handling Consumer Complain, Negotiation Skill, Sales Skill, Team Work Training, Leadership Training dan yang sejenisnya.  Dengan nilai investasi relatif masih terjangkau, (katakanlah di bawah Rp. 10 juta) dan dilakukan hanya dua atau tiga hari saja.

Jika kita mengirim karyawan untuk ikut training umum semacam ini, rasanya tidak perlu diberlakukan ikatan dinas.

Memang kenapa Om ?

Saya takut hal ini menjadi penghalang bagi para karyawan untuk mengembangkan dirinya sendiri.  Ini juga menjadi penghambat tim HR khususnya bagian Training and Developement di perusahaan tersebut untuk mengusulkan program pengembangan bagi karyawan-karyawan di organisasinya.  Mereka, para karyawan itu jadi enggan ikut training, karena takut dengan “ancaman” ikatan dinas tersebut.  Hal ini membuat gerakan mereka jadi terikat.  Merasa tidak bebas.

Seharusnya …

Seorang karyawan itu tetap bertahan dan berkarya dengan suka rela dan gembira di suatu perusahaan itu karena memang mereka merasa nyaman untuk terus bekerja di sana …

Bukan karena adanya ikatan dinas !!!

(Once again, ini pendapat pribadi.  Masing-masing instansi/organisasi/perusahaan pasti punya kebijakan sendiri)

Anda pernah mendapatkan “ikatan dinas” ?
Anda pernah ditawari ikut training dengan “ikatan dinas” ?
Anda pernah mendengar mengenai “ikatan dinas”?

What do you think ?

Salam saya

om trainer1

.

.

.

.

Posted in Artikel | 9 Comments